Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers Indonesia. (Ist-KarimataMedia)

Hari Kebebasan Pers, Dewan Pers: Media Harus Jadi Penjernih Disinformasi

KARIMATAMEDIA, JAKARTA – Peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia yang jatuh setiap 3 Mei menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali peran strategis pers dalam menjaga demokrasi, perdamaian, dan peradaban global di tengah derasnya arus informasi yang kerap memicu polarisasi.

Ketua Dewan Pers Indonesia, Komaruddin Hidayat, menyampaikan bahwa peringatan ini bukan sekadar seremoni kebebasan berpendapat, melainkan pengingat atas tanggung jawab besar insan pers dalam membangun peradaban dan menjaga harmoni antar masyarakat dunia.

“Kita tidak sekadar berkumpul untuk merayakan kebebasan berpendapat. Lebih dari itu, momen ini merupakan pengingat bahwa kita sedang memikul tanggung jawab besar untuk ikut serta membangun peradaban dan menjaga perdamaian antar penduduk bumi di tengah derasnya arus informasi global yang kerap memicu polarisasi,” ujarnya.

Ia menegaskan, tema pers berkualitas untuk masa depan yang damai dan adil menjadi sangat relevan di tengah disrupsi informasi. Menurutnya, jurnalisme yang sehat harus menjadi jangkar yang menjaga kepercayaan publik.

Baca Juga:  Banting Setir, Tiga Kendaraan Terlibat Kecelakaan di Taddan Sampang

Komaruddin menekankan dua hal penting kepada insan pers. Pertama, media tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai instrumen untuk mencapai keadilan dan kesejahteraan masyarakat.

“Di tengah polusi dan manipulasi informasi yang sering kali memicu konflik, media harus hadir sebagai penjernih. Kita harus menyadari bahwa tanpa informasi yang akurat, berimbang, dan edukatif, mustahil dapat merajut kedamaian yang berkelanjutan. Setiap karya jurnalistik bermutu yang kita hasilkan adalah investasi nyata bagi demokrasi yang sehat,” tegasnya.

Kedua, ia menyoroti pentingnya menjaga kualitas pers sebagai pilar keberlanjutan masa depan. Menurutnya, masa depan yang adil hanya dapat terwujud jika publik menerima informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Pers adalah penjaga publik. Tanpa kualitas pers yang terjaga, demokrasi kita akan menjadi rapuh. Bangsa ini akan terus terancam oleh arus disinformasi yang destruktif,” lanjutnya.

Ia juga mengingatkan bahwa perjuangan menjaga nama baik Republik tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan harus menjadi gerakan bersama masyarakat global. Hal tersebut sejalan dengan langkah UNESCO yang akan menggelar konferensi Hari Kebebasan Pers Dunia pada 4 hingga 5 Mei mendatang di Zambia.

Baca Juga:  Satpol PP Serahkan Pembinaan Siswa Bolos di Jalan Segara Pamekasan ke Pihak Sekolah

Forum internasional itu akan membahas tren terbaru kebebasan berekspresi serta arah perkembangan media global yang semakin kompleks.

“Apa yang dibahas di Zambia juga menjadi perhatian kita di Indonesia. Tantangan terhadap kebebasan pers terus berevolusi dan kita harus siap beradaptasi tanpa menggadaikan integritas,” jelasnya.

Sebagai penutup, Komaruddin mendorong lahirnya regulasi yang berpihak pada insan pers, termasuk undang-undang yang melindungi hak cipta karya jurnalistik serta kebijakan pembebasan pajak bagi produk intelektual yang berkontribusi mencerdaskan bangsa.

Ia pun mengajak seluruh insan pers di Indonesia untuk tetap berada di garis terdepan dalam menjaga demokrasi.

“Mari kita buktikan bersama bahwa pers Indonesia mampu menjadi pilar utama dalam menciptakan masa depan yang demokratis, bebas, damai, adil, dan berkelanjutan,” pungkasnya. (Ainul/Mel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *