Aktivis lingkungan sekaligus Wakil Rektor IV Universitas Annuqayah, K M Mustofa, MA (Ist-Karimata.net)

Kenaikan Harga Plastik Jadi Alarm, Masyarakat Diminta Ubah Pola Hidup

KARIMATAMEDIA, PAMEKASAN — Isu kenaikan harga plastik masih menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat, sekaligus menimbulkan kekhawatiran bagi pelaku usaha, khususnya UMKM. Kenaikan tersebut dipicu oleh dampak eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memengaruhi pasokan bahan baku plastik.

Sejumlah pelaku usaha kecil mengaku kelimpungan dengan naiknya harga plastik, sehingga sebagian diantaranya mulai menyiasati strategi dagang sebagai bentuk penyesuaian.

Di sisi lain, kondisi ini juga menjadi peluang bagi masyarakat untuk mulai mengurangi penggunaan kemasan plastik, sekaligus menekan produksi sampah demi menjaga kebersihan lingkungan.

Menanggapi hal itu, Aktivis lingkungan sekaligus Wakil Rektor IV Universitas Annuqayah, K M Mustofa, MA, menyampaikan bahwa kenaikan harga bahan dasar plastik kini telah berdampak luas terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut dipicu oleh terganggunya pasokan bahan baku akibat eskalasi geopolitik global, terutama di Timur Tengah, yang berimbas pada naiknya harga minyak bumi sebagai bahan utama produksi plastik.

Baca Juga:  Inul Daratista Jadi Brand Ambassador Royco, Sebut Madura Rumah Kedua

“Kenaikan ini membuat pelaku usaha yang bergantung pada plastik terpaksa menyesuaikan harga. Namun disisi lain, ini menjadi pengingat bahwa ketergantungan kita terhadap plastik sudah sangat tinggi,” ujarnya.

Menurutnya, fenomena ini seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi gaya hidup masyarakat yang selama ini tidak lepas dari penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari.

“Dari bangun tidur sampai tidur lagi, kehidupan kita dikepung plastik. Ini saatnya kita mulai berpikir ulang tentang kebiasaan tersebut,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa sampah plastik memiliki dampak serius terhadap lingkungan, mulai dari proses produksi hingga saat menjadi limbah. Plastik yang berbahan dasar minyak bumi membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai, bahkan bisa mencapai puluhan hingga ratusan tahun.

“Masalahnya bukan hanya saat digunakan, tetapi juga setelah dibuang. Plastik dapat merusak tanah dan mencemari laut yang berdampak pada biota,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menyebut sumber utama sampah plastik berasal dari aktivitas sehari-hari, seperti penggunaan kantong belanja sekali pakai dan air minum dalam kemasan.

Baca Juga:  Mensos: TKSK Kalau Tidak Disiplin, Besok Bisa Berhenti

Sebagai solusi, ia mendorong masyarakat untuk melakukan perubahan sederhana, seperti membawa tas belanja sendiri, mengurangi penggunaan produk sekali pakai, serta beralih ke sistem isi ulang, termasuk penggunaan tumbler.

“Perubahan tidak harus ekstrem. Mulai dari hal kecil yang mudah dilakukan, itu sudah sangat berarti jika dilakukan secara konsisten,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya dukungan kebijakan dari berbagai pihak, baik di lingkungan sekolah, kantor, maupun pemerintahan, untuk mendorong pengurangan penggunaan plastik secara lebih luas.

Menurutnya, kolaborasi antara perubahan individu, edukasi masyarakat, dan kebijakan yang pro lingkungan akan memberikan dampak besar dalam mengurangi ketergantungan terhadap plastik.

“Ini bukan hanya soal ekonomi, tapi juga masa depan lingkungan kita. Harus dimulai dari sekarang,” pungkasnya. (Ag/Faz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *