Neng Rida Umamah S.Th.I kini dikenal sebagai penggerak majelis dzikir dan sholawat yang memiliki ribuan anggota lintas daerah hingga luar negeri (foto - ist - Karimatamedia)

Berawal 44 Orang, Kini Ribuan Jamaah: Kisah Neng Rida Umamah Menggerakkan Peshona

KARIMATA MEDIA, PAEMEKASAN – Dari seorang ibu rumah tangga biasa, Neng Rida Umamah S.Th.I kini dikenal sebagai penggerak majelis dzikir dan sholawat yang memiliki ribuan anggota lintas daerah hingga luar negeri. Melalui Majelis Peshona (Pecinta Sholawat Nariyah), ia mengajak para muslimah untuk istiqomah dalam bersholawat sekaligus mempererat ukhuwah.

Majelis Peshona berdiri pada 1 Ramadhan 1442 H atau 12 April 2021 di Pamekasan. Awalnya hanya diikuti 44 orang, namun seiring waktu berkembang pesat menjadi ribuan anggota yang tersebar di Madura, Pulau Jawa, luar Jawa, hingga mancanegara. Keunikan majelis ini terletak pada sistemnya yang berbasis daring, memanfaatkan gawai untuk mengorganisir kegiatan dzikir dan sholawat secara berjamaah dan terstruktur.

Baca Juga:  Transformasi Kepemimpinan, AKBP Hendra Gantikan AKBP Jazuli di Pamekasan

“Tujuan kami sederhana, bagaimana para muslimah bisa terus istiqomah bersholawat, khususnya sholawat nariyah, sekaligus membangun persaudaraan,” ujar Neng Rida Umamah, kepada Jurnalis Karimata Media, Selasa (21/04/2026)

Seluruh anggota Majelis Peshona merupakan perempuan, mulai dari pengurus hingga jamaah. Hal ini menjadi ruang tersendiri bagi para muslimah untuk saling menguatkan dalam kebaikan, di tengah kesibukan sebagai ibu rumah tangga maupun aktivitas lainnya.

Selain membina Majelis Peshona, Neng Rida juga aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan. Ia dipercaya sebagai pembina Majelis ODOJ (One Day One Juz) Pamekasan, serta menjabat sebagai Ketua Yayasan Rumah Al-Qur’an Tibyana Pamekasan. Aktivitasnya juga kerap diisi dengan pengajian-pengajian muslimat di berbagai tempat.

Baca Juga:  Tragedi KM Tunu di Selat Bali: 4 Meninggal, 38 Masih Dicari

Di tengah perannya yang beragam, Neng Rida tetap memposisikan dirinya sebagai ibu rumah tangga. Namun dari peran sederhana itulah, ia justru mampu menghadirkan gerakan dakwah yang luas dan berdampak.

Bagi Neng Rida, dakwah tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Konsistensi dalam hal kecil, seperti mengajak bersholawat setiap hari, justru menjadi kunci lahirnya gerakan yang terus tumbuh.

Kini, Majelis Peshona bukan hanya menjadi wadah dzikir, tetapi juga ruang spiritual dan sosial bagi para muslimah untuk saling mendukung, menguatkan, dan melangkah bersama dalam kebaikan.(Sukri/Sl)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *