KARIMATAMEDIA, PAMEKASAN – Peringatan Hari Kartini menjadi momentum penting bagi kaum perempuan untuk kembali meneguhkan semangat perjuangan melawan diskriminasi yang hingga kini masih terjadi di berbagai sektor kehidupan.
Suyyinah, S.Pd.I., M.H., M.Pd. Ketua Korps Muballighah DMI Kabupaten Pamekasan menilai, semangat Kartini tidak boleh berhenti pada simbol seremonial seperti penggunaan kebaya semata, melainkan harus diwujudkan dalam aksi nyata untuk memperjuangkan kesetaraan dan keadilan bagi perempuan.
“Momentum ini harus menjadi dorongan bagi perempuan modern untuk berani melawan diskriminasi,” ungkap salah satu aktivis perempuan di Pamekasan.
Ia menjelaskan, saat ini perempuan Indonesia telah menunjukkan perkembangan signifikan dengan mulai mengisi ruang-ruang publik dan berperan aktif dalam berbagai sektor, termasuk ekonomi. Di Pamekasan sendiri, perempuan dinilai sudah banyak berkontribusi, khususnya di sektor informal seperti menjadi pelaku usaha dan pemilik butik.
“Perempuan sekarang sudah mulai bertransformasi. Banyak yang terlibat di sektor ekonomi, bahkan menjadi owner usaha. Ini menunjukkan bahwa perempuan mampu mandiri dan berdaya,” tambahnya.
Meski demikian, tantangan masih tetap ada, terutama di era digital yang menuntut perempuan untuk terus meningkatkan kapasitas diri. Kemandirian ekonomi, pendidikan, serta kemampuan berpikir kritis menjadi kunci utama dalam menghadapi perubahan zaman.
“Di era digital ini, perempuan harus terus meng-upgrade diri. Harus tegas, pintar, dan berpendidikan dan secara ekonomi juga harus mandiri,” tegasnya.
Ia berharap, ke depan perempuan tidak lagi dipandang sebatas peran domestik semata, melainkan sebagai individu yang memiliki otoritas, mampu bersinergi, serta berkontribusi dalam pembangunan.
“Perempuan tidak hanya sebagai ibu rumah tangga. Kita harus keluar dari pemikiran itu. Perempuan harus cerdas, mandiri, dan punya peran strategis dalam kehidupan sosial,” pungkasnya. (Melli/Hen)
Karimata Media Dinamika Madura