KARIMATAMEDIA, JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi musim kemarau 2026 di Indonesia diperkirakan lebih kering dan berdurasi lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan bahwa proyeksi iklim global menunjukkan adanya perubahan pola iklim setelah berakhirnya La Niña lemah pada Februari 2026 dan beralih ke fase netral.
Menurutnya, peluang munculnya fenomena El Niño dengan kategori lemah hingga moderat pada semester kedua tahun 2026 diperkirakan mencapai 50 hingga 60 persen.
“Perubahan kondisi iklim tersebut berpotensi memengaruhi pola curah hujan di Indonesia sehingga musim kemarau tahun ini diproyeksikan lebih kering dari biasanya,” jelasnya.
BMKG memprakirakan sifat musim kemarau tahun 2026 lebih kering dari normal pada sekitar 451 Zona Musim atau 64,5 persen wilayah Indonesia. Sementara itu sekitar 245 Zona Musim atau 35,1 persen wilayah diperkirakan berada dalam kondisi normal.
Hanya tiga Zona Musim atau sekitar 0,4 persen wilayah yang diperkirakan mengalami musim kemarau lebih basah dari normal, yakni di wilayah Gorontalo dan Sulawesi Tenggara.
Selain itu, BMKG juga memprediksi durasi musim kemarau di sekitar 57,2 persen wilayah Indonesia akan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
BMKG mengimbau berbagai sektor, terutama sektor pertanian, untuk mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini. Petani disarankan menyesuaikan jadwal tanam, memilih varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan serta memiliki siklus panen lebih singkat.
Selain itu, pengelolaan sumber daya air juga perlu diperkuat melalui optimalisasi tampungan air dan perbaikan jaringan distribusi, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap penurunan kualitas udara dan potensi kebakaran hutan maupun lahan. (Sukri/Bam)
Karimata Media Dinamika Madura