KARIMATAMEDIA, PAMEKASAN – Kegagalan dalam seleksi pertama tidak membuat dua pemuda asal Pamekasan, Sersan Mayor Taruna Reva Ahmad Iqmal Razak dan Sersan Mayor Taruna Rifqi Alamsah, menyerah mengejar cita-cita menjadi prajurit TNI. Keduanya kembali mencoba pada tahun berikutnya hingga akhirnya berhasil lolos seleksi Akademi TNI tahun 2024.
Reva yang kini menjadi Komandan Skadron Taruna I di Akademi Angkatan Udara (AAU), mengaku sempat gagal saat pertama kali mendaftar Akademi Kepolisian. Ia kemudian mencari jalur lain dan kembali mengikuti seleksi Akademi TNI hingga akhirnya diterima.
“Kalau saya dulu tahun pertama daftar Akademi Kepolisian. Tapi mungkin di Akademi Kepolisian bukan jalannya, jadi saya cari jalur lain yang setara dengan Akabri. Saya masuk daftar Akademi TNI di tahun kedua dan akhirnya Alhamdulillah masuk,” kata Reva di Karimata Media.
“ Saya alumni SDI Al-Munawwarah, SMP Negeri 2 Pamekasan, dan SMA Negeri 1 Pamekasan. orang tua menjadi motivasi terbesar dalam perjalanan pendidikan. Pesan dari orang tua untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari mereka terus diingat hingga akhirnya menjadi salah satu alasan memilih jalur militer,” Tambahnya.
Sementara itu, Rifqi Alamsah yang kini menempuh pendidikan di Akademi Militer (Akmil), juga mengalami kegagalan pada percobaan pertamanya. Alumni SDN Bulay 1, SMP Negeri 2 Pamekasan, dan SMA Negeri 1 Pamekasan itu kemudian memperbaiki persiapan, khususnya pada aspek psikologi.
“Di tahun pertama mungkin persiapan saya kurang. Jadi di tahun kedua lebih matang lagi. Saya les psikologi sekitar tiga bulan di Malang dan fokus mempersiapkan tes psikologi untuk masuk AKMIL,” ujar Rifqi.
Menariknya, cita-cita Rifqi sejak kecil sebenarnya bukan menjadi prajurit. Ia sempat bercita-cita menjadi dokter. Namun, kebiasaan berolahraga sejak masa pandemi Covid-19 membuatnya mulai tertarik dengan dunia militer.
“ Awalnya ketertarikan itu muncul dari hal sederhana, yakni melihat seragam taruna yang gagah. Setelah mencari informasi lebih jauh, ketertarikan tersebut berkembang menjadi tekad untuk mengikuti seleksi,” Jelasnya.
Dalam persiapan seleksi, keduanya menekankan pentingnya kesiapan secara menyeluruh. Mulai dari kemampuan akademik, fisik, hingga psikologi harus dipersiapkan sejak jauh-jauh hari.
Reva mengaku lebih banyak memprioritaskan akademik karena ingin masuk AAU. Ia mengikuti bimbingan belajar, mengerjakan soal-soal latihan, serta tetap menjaga kebugaran melalui olahraga seperti lari, push-up, sit-up, pull-up, dan renang.
“Kalau saya pribadi lebih mengutamakan akademik. Karena AAU pada saat saya mengikuti tes lebih mengutamakan fisik dan akademik. Jadi saya memfokuskan diri untuk mengasah kemampuan akademik,” tuturnya.
Menurut Rifqi, persiapan fisik juga menjadi bagian penting. Beberapa materi yang harus dipersiapkan antara lain lari 12 menit, pull-up, sit-up, push-up hingga shuttle run. Selain itu, kemampuan akademik dan psikologi juga menjadi bagian penting dalam proses seleksi.
Perjuangan keduanya juga tidak mudah. Dalam seleksi tingkat daerah, sekitar 1.100 peserta dari Jawa Timur mengikuti proses seleksi, sebelum akhirnya sekitar 155 peserta dikirim untuk mengikuti seleksi tingkat pusat. Dari Pamekasan, Reva dan Rifqi menjadi dua peserta yang berhasil melanjutkan hingga diterima sebagai Taruna Akademi TNI.
Kisah Reva dan Rifqi menjadi gambaran bahwa kegagalan bukan akhir dari sebuah perjuangan. Keduanya membuktikan bahwa kesempatan dapat diraih dengan evaluasi, persiapan yang lebih matang, dan keberanian untuk kembali mencoba. (Anisa/Mel)
Karimata Media Dinamika Madura