Breaking News

Tradisi Lebaran Unik di Nong Pote: Ibu Baidi Kisahkan Kebiasaan Dahulukan Tetangga

KARIMATAMEDIA, SUMENEP – Perayaan Hari Raya Idulfitri di Dusun Nong Pote, Desa Pragaan Daya, menghadirkan suasana yang berbeda dari kebanyakan daerah. Di dusun yang berada di lereng perbukitan ini, masyarakat masih menjaga tradisi turun-temurun berupa kunjungan bersama ke rumah tetangga sebelum bersilaturahmi ke keluarga masing-masing.

Tradisi ini tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi juga mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan yang mengakar dalam kehidupan warga setempat.

Tim Karimata yang berada di lokasi pada Sabtu (21/3/2026) berkesempatan mewawancarai salah satu warga, Ibu Baidi (60).

Ia menuturkan bahwa tradisi tersebut telah berlangsung sejak dirinya masih kecil dan diwariskan secara turun-temurun.

“Semenjak saya kecil memang sudah ada tradisi ini. Jadi mereka memilih mengunjungi rumah tetangga terlebih dahulu sebelum silaturahmi dengan keluarga terdekatnya,” ujar Ibu Baidi.

Menurut Ibu Baidi, pola kunjungan dalam tradisi ini sudah menjadi kesepakatan sosial yang dipahami bersama oleh warga. Rumah pertama yang dikunjungi biasanya menyajikan hidangan utama seperti nasi. Sementara itu, rumah berikutnya cukup menyediakan minuman ringan seperti kopi atau minuman lainnya

Baca Juga:  Awas! Cuaca Ekstrem Ancam Jawa Timur, BMKG Sebut 15 Wilayah Rawan

“Siapa yang pertama kali dikunjungi biasanya disuguhkan nasi, untuk tetangga berikutnya, maka cukup menyediakan yeh atau kopi saja. Kalau sudah selesai nanti mereka baru akan pergi ke rumah sanak saudaranya masing-masing,” jelas Ibu Baidi.

Menariknya, tradisi ini tidak didasari oleh hubungan kekerabatan semata, melainkan lebih pada nilai kebersamaan antarwarga.

Saat ditanya apakah seluruh warga memiliki ikatan keluarga sehingga tradisi ini terbentuk, Ibu Baidi menegaskan bahwa hal tersebut bukan menjadi faktor utama.

“Tidak cong, bukan karena itu, meskipun ada sebagian yang terikat sanak saudara, tapi bukan karena itu,” ungkap Ibu Baidi.

Lebih lanjut, ketika ditanya mengenai asal-usul tradisi tersebut, Ibu Baidi mengaku tidak mengetahui secara pasti siapa yang pertama kali memulainya. Namun, ia memastikan bahwa kebiasaan ini sudah ada sejak generasi sebelumnya.

Baca Juga:  Kebakaran Lahan Bambu di Pademawu Berhasil Dipadamkan dalam 27 Menit, Berkat Respons Cepat Tim Damkar

“Semenjak saya kecil dari ayah saya masih ada memang sudah ada mas,” tuturnya.

Hal ini menunjukkan bahwa tradisi tersebut telah berlangsung cukup lama dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Dusun Nong Pote.
Saat ditanya apakah tradisi ini berlaku di seluruh wilayah Pragaan, Ibu Baidi menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut hanya ditemukan di wilayah tertentu.

“Tidak, ya di Dusun Nong Pote saja, lebih tepatnya di Nong Pote atas. Tidak menyeluruh,” kata Ibu Baidi.

Dusun Nong Pote yang terletak di kawasan perbukitan tidak hanya menawarkan pemandangan alam yang indah, tetapi juga menyimpan kekayaan tradisi yang masih terjaga hingga kini. Di tengah arus modernisasi, masyarakat setempat tetap mempertahankan nilai-nilai lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Dalam suasana Idulfitri yang identik dengan saling memaafkan, kebiasaan tersebut memperkuat makna kebersamaan sebelum akhirnya masing-masing warga melanjutkan silaturahmi ke keluarga mereka. (Ainul/Lumi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *