DPRD Pamekasan Soroti Kelangkaan Elpiji, Warga Kesulitan Dapat Gas

KARIMATAMEDIA, PAMEKASAN — Kelangkaan gas elpiji mulai dirasakan masyarakat. Sejumlah warga mengaku kesulitan mendapatkan gas, bahkan harus berkeliling hingga malam hari tanpa hasil.

Ketua Komisi I DPRD Pamekasan Ismail mengatakan kondisi ini diduga berkaitan dengan terganggunya pasokan di sejumlah depot, yang ikut terdampak situasi global, khususnya konflik di kawasan Timur Tengah.

“Tadi malam saya cari gas elpiji sudah kuwalahan, susah sekali didapat. Beberapa depot juga kosong katanya terdampak pasokan,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, kondisi geopolitik seperti konflik di Timur Tengah berpotensi memengaruhi distribusi energi, termasuk gas dan bahan bakar minyak (BBM). Meski saat ini sempat terjadi gencatan senjata selama dua pekan, masyarakat tetap diminta waspada terhadap dampak lanjutan.

Baca Juga:  Pria Paruh Baya ditemukan Meninggal di Depan Kamar Mandi

“Kita bersyukur ada gencatan senjata, dibanding beberapa negara yang sudah kolaps BBM. Di Indonesia masih relatif stabil,” tambahnya.

Menurutnya, jalur distribusi energi dunia seperti Selat Hormuz menjadi titik krusial. Jika jalur tersebut terganggu, maka pasokan gas dan BBM ke berbagai negara, termasuk Indonesia, bisa ikut terdampak.

“Kalau Selat Hormuz sampai ditutup, kita bisa bingung. Gas dan BBM ini dua hal penting, dampaknya besar sekali,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan, jika konflik berkepanjangan hingga berbulan-bulan, maka krisis energi bisa semakin terasa. Bahkan, masyarakat mulai khawatir harus kembali menggunakan cara tradisional seperti kayu bakar.

Baca Juga:  Minibus dan Truk Tabrakan di Jembatan Kacok Palengaan, Kerugian Capai Rp10 Juta

“Kalau di Madura mungkin masih bisa pakai kayu bakar, tapi kalau di kota, kalau gas habis mau pakai apa? Ini jadi persoalan,” katanya.

Meski demikian, masyarakat berharap situasi global segera membaik dan pasokan energi kembali normal. Pemerintah juga telah mengimbau masyarakat untuk mulai menghemat penggunaan energi sebagai langkah antisipasi.

“Kita masih dalam situasi tenang, tapi tetap harus hemat energi. Harapannya konflik segera selesai dan kondisi kembali normal,” pungkasnya.

Selain itu, ia menilai konflik yang terjadi juga menjadi pelajaran bagi banyak negara, termasuk Indonesia, tentang pentingnya ketahanan energi dan kesiapsiagaan menghadapi krisis global. (Anisa/Ain)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *