Mahapala Unira Peringati Hari Bumi Sedunia dengan Aksi Nyata Jaga Lingkungan

KARIMATAMEDIA, PAMEKASAN — Mahasiswa Pecinta Alam (Mahapala) Universitas Madura (Unira) memperingati Hari Bumi Sedunia dengan menggelar serangkaian kegiatan lingkungan yang berfokus pada aksi nyata pelestarian alam, mulai dari penanaman mangrove hingga seminar lingkungan hidup.

Ketua Mahapala Unira, Hendri, menyampaikan bahwa peringatan tahun ini tidak sekadar kegiatan seremonial atau insidental, melainkan upaya untuk menegaskan peran mahasiswa sebagai pelopor dalam menjaga dan merawat lingkungan.

“Jadi memang kita di sini ingin menjadi benar-benar pelopor untuk bisa merawat dan menjaga bumi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, salah satu agenda utama adalah penanaman mangrove di Desa Ambat sebagai bentuk respon terhadap permasalahan abrasi pantai yang masih terjadi di wilayah Pamekasan.

“Kita lihat sendiri permasalahan abrasi pantai di Pamekasan itu sendiri masih banyak terjadi. Makanya kita selaku Mahasiswa Pecinta Alam ingin melakukan penanaman mangrove,” katanya.

Baca Juga:  Disdik Pamekasan Wajibkan Sekolah Tingkatkan Pendidikan Agama Selama Ramadan

Dalam kegiatan tersebut, Mahapala Unira menargetkan penanaman sekitar 300 hingga 500 pohon mangrove. Kegiatan ini juga melibatkan berbagai elemen, mulai dari Siswa Pecinta Alam (Sispala), Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala), hingga sejumlah tamu undangan dari tingkat provinsi, seperti Ketua Kader Konservasi Alam (KKA) Jawa Timur dan Wakil Ketua Bidang Hukum dan HAM KNPI Jawa Timur – Nur Faisal.

Selain penanaman mangrove, Mahapala juga akan menggelar Seminar Lingkungan Hidup pada 23 April yang menyasar peserta dari kalangan Mapala dan Sispala. Seminar tersebut rencananya menghadirkan narasumber dari Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jawa Timur, Ketua KKA Jawa Timur, serta perwakilan KNPI Jawa Timur.

Hendri menambahkan, setiap tahun Mahapala Unira memiliki fokus kegiatan yang berbeda dalam isu lingkungan. Pada tahun sebelumnya, pihaknya lebih menitikberatkan pada aksi bersih-bersih sampah di Pantai Padelegan yang dilakukan secara berkelanjutan selama tiga hingga enam bulan.

Baca Juga:  Keluhan Listrik Pasca Cuaca Ekstrem, PLN Pamekasan: Pemulihan Hampir Selesai

“Untuk tahun sekarang kita fokusnya ke bagian penanaman dan seminarnya,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan bahwa Mahapala tidak hanya bergerak pada aksi lapangan, tetapi juga aktif dalam forum diskusi lingkungan, baik di tingkat regional maupun nasional. Salah satunya melalui forum Temu Wicara Kenal Medan (TWKM) serta keterlibatan dalam pembahasan isu lingkungan di tingkat nasional yang digelar di Universitas Tadulako, Palu.

Ke depan, Mahapala juga akan menggelar Focus Group Discussion (FGD) guna membahas berbagai persoalan lingkungan secara lebih komprehensif. (Soleh/Hen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *