Kemarau Panjang 2026 Mengintai, BMKG Minta Warga Siaga Sejak Dini

KARIMATAMEDIA, SIDOARJO — Istilah El Nino Godzilla kembali ramai diperbincangkan, namun Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa istilah tersebut bukanlah terminologi ilmiah dalam klimatologi, melainkan hanya sebutan populer untuk menggambarkan fenomena El Nino yang sangat kuat.

Forecaster Trya Chandra menjelaskan, istilah “Godzilla” mulai digunakan sejak 2015 untuk membedakan El Nino dengan intensitas ekstrem dari kategori umum yang selama ini dikenal, yakni lemah, moderat, dan kuat. Ia menyebut, kategori sangat kuat atau yang dijuluki “Godzilla” terjadi ketika anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 di Samudra Pasifik melebihi 2 derajat Celcius.

“Jadi sebenarnya itu bukan istilah ilmiah, hanya istilah populer untuk membedakan dengan El Nino kuat pada umumnya,” jelasnya saat On Air di Radio Karimata Dinamika Madura, Rabu (15/04/2026) siang.

Ia menerangkan, fenomena El Nino sendiri merupakan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang berdampak global, termasuk Indonesia. Dampaknya signifikan, mulai dari penurunan curah hujan hingga musim kemarau yang lebih panjang dan kering.

Baca Juga:  Atlet  Asal Pamekasan Sabet 5 Medali  Di Kejuaran SLC Cup Road To Thailand

Namun demikian, berdasarkan pemantauan BMKG, peluang terjadinya El Nino sangat kuat pada 2026 relatif kecil, yakni di bawah 12 persen. Sementara potensi El Nino pada level lemah hingga moderat berada di kisaran 16 hingga 32 persen, dan peluang hingga kategori kuat sekitar 32 persen.

Lebih lanjut, Trya mengungkapkan bahwa musim kemarau di Jawa Timur tahun ini telah mulai lebih awal di sejumlah wilayah. Kota dan Kabupaten Probolinggo, Situbondo bagian timur, serta Sampang menjadi daerah yang lebih dulu memasuki musim kemarau pada April. Sementara sebagian besar wilayah lainnya diperkirakan mulai pada Mei.

“Untuk durasi musim kemarau di Jawa Timur berkisar 19 sampai 21 dasarian atau sekitar lima bulan, dengan puncaknya umumnya terjadi pada Agustus,” ujarnya.

Meski begitu, beberapa wilayah seperti Tulungagung, Blitar, Malang bagian selatan, Pasuruan selatan, dan Lamongan utara diprediksi mengalami puncak kemarau lebih lambat, yakni pada September.

Baca Juga:  Wujudkan Pembangunan Berkelanjutan, Pemkab Pamekasan Gelar Sosialisasi Pemutakhiran Data IDM

BMKG juga menyoroti pengaruh perubahan iklim terhadap pola musim yang semakin tidak menentu. Percepatan awal musim kemarau serta durasi yang lebih panjang menjadi salah satu indikasi dampak perubahan iklim yang kini dirasakan.

Selain berpotensi menyebabkan kekeringan, kondisi ini juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini.

BMKG mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air, melakukan penampungan air hujan selama masa pancaroba, serta tidak membuka lahan dengan cara membakar. Di sisi lain, masyarakat juga diminta menjaga kesehatan dengan memastikan asupan cairan cukup dan menggunakan masker saat kualitas udara menurun.

“Musim kemarau bukan berarti tidak ada hujan sama sekali, tetapi hujan yang terjadi cenderung bersifat lokal. Tetap waspada dan lakukan antisipasi sejak sekarang,” pungkasnya.(Lumi/Sl)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *