Kendaraan Roda 2 Saat Antre BBM Pertalite di SPBU Asri Pamekasan (Doc-Karimata Media)

Kuota Pertalite Pamekasan Dipangkas 6,8 Persen, Ini Penjelasan Pemkab

KARIMATAMEDIA, PAMEKASAN – Kuota BBM bersubsidi jenis Pertalite di Kabupaten Pamekasan turun 6,8 persen pada 2026 dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini terjadi di tengah tingginya permintaan masyarakat yang turut memicu antrean panjang di sejumlah SPBU sejak akhir Agustus.

Berdasarkan data Pertamina Patra Niaga, kuota Pertalite Pamekasan turun dari 80.942 kiloliter pada 2025 menjadi 75.430 kiloliter pada 2026, sementara kuota Solar Pamekasan tahun 2025 sebesar 34.740 kiloliter, meningkat menjadi 37.240 kiloliter pada 2026, atau naik sekitar 7,1 persen.

Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Pamekasan, Sri Puji Harijani, mengatakan penurunan tersebut merupakan kuota tahunan yang ditetapkan Pertamina Patra Niaga. Namun, pihaknya memastikan tidak ada informasi mengenai pengurangan kuota harian di SPBU.

“Kuota tahunan yang diterima dari Pertamina Patra Niaga justru mengalami peningkatan untuk yang jenis Solar, sementara yang pertalite turun,” ujarnya saat On Air di Radio Karimata Dinamika Madura, Rabu (09/09/2026) siang. 

Baca Juga:  PAD 2023 Tak Terealisasi, Disporapar Pamekasan Turunkan Target PAD 2024

Menurutnya, kuota tersebut merupakan kuota tahunan yang kemudian pengaturannya dibagi secara bulanan oleh Pertamina Patra Niaga. Bagian Perekonomian tidak memegang data pembagian kuota bulanan tersebut.

“Untuk kebutuhan satu tahun itu aman. Tidak ada pengurangan kuota,” tegasnya.

Menurutnya, Pemkab Pamekasan bahkan setiap tahun mengusulkan kuota BBM bersubsidi yang lebih besar kepada BPH Migas. Namun, kuota yang ditetapkan tidak selalu sesuai dengan jumlah yang diusulkan pemerintah daerah.

Terkait antrean panjang yang terjadi, Bagian Perekonomian Setda Pamekasan telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah SPBU pada 3 hingga 4 September 2026.

“Hasil pemeriksaan di lapangan menunjukkan tidak ditemukan adanya pengurangan kuota harian dari SPBU yang didatangi. Antrean panjang lebih disebabkan keterlambatan distribusi BBM bersubsidi pada awal September,” ungkapnya.

Baca Juga:  Curah Hujan Tinggi, Puluhan Rumah Warga Terdampak Longsor di Sana Daja Pasean Pamekasan

Sri menyebut, sejak pekan keempat Agustus, beberapa SPBU sempat mengalami kekosongan stok. Kondisi tersebut membuat masyarakat berbondong-bondong mendatangi SPBU yang masih memiliki persediaan BBM bersubsidi.

Tingginya permintaan juga dipengaruhi perpindahan konsumen dari Pertamax ke Pertalite setelah harga Pertamax mengalami kenaikan pada Juni. Pada Juli, Pertamina sempat memberikan tambahan kuota sehingga antrean dapat ditekan. Namun, tambahan tersebut kemudian habis, sementara permintaan masyarakat tetap tinggi.

“Bulan Juli, Agustus, bahkan dari Juni ada panen tembakau. Jual beli tembakau tinggi, aktivitas masyarakat meningkat. Kemudian ada Maulid Nabi. Jadi permintaan BBM bersubsidi tinggi,” jelasnya.

Di tengah kondisi tersebut, Bagian Perekonomian juga menyoroti pembelian BBM bersubsidi menggunakan jeriken maupun galon air mineral. Sri mengimbau SPBU tidak melayani pembelian semacam itu apabila tidak dilengkapi surat rekomendasi resmi. (Lumi/Yan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *