Dari Gerobak Nasi Goreng ke Tanah Suci, H. Abdul Hamid Wujudkan Mimpi Haji Bersama Istri

KARIMATAMEDIA, PAMEKASAN – Perjuangan panjang seorang penjual nasi goreng dan mie goreng akhirnya berbuah manis. Uang yang disisihkan setiap hari dari hasil jualan akhirnya mengantarkan H. Abdul Hamid dan istrinya menjadi tamu Allah di Tanah Suci. Perjuangan panjang selama bertahun-tahun itu kini menjadi bukti bahwa niat kuat dan ketekunan mampu mengalahkan keterbatasan ekonomi.

Saat On Air bersama Karimata H. Abdul Hamid menangis mengisahkan perajalanan ia mulai menabung pada tahun 2008 setelah sebelumnya menghabiskan tabungannya untuk membeli rumah dan pindah tempat tinggal. Saat itu ia mengaku tidak memiliki simpanan yang cukup untuk mewujudkan impiannya menunaikan ibadah haji.

Namun setiap malam, seusai berjualan nasi goreng dan mie goreng, sebagian penghasilannya selalu disisihkan. Nominalnya tidak besar dan tidak tentu, bahkan sering kali hanya Rp100 ribu hingga Rp500 ribu, tergantung hasil dagangan hari itu.

“Kadang Rp300 ribu, kadang Rp500 ribu, kadang Rp100 ribu. Tidak tetap, tergantung hasil jualan setiap malam,” tutur Abdul Hamid.

Baca Juga:  World Cleanup Day 2024, Sampah Plastik Masih Mendominasi

Tanpa terasa, kebiasaan sederhana itu membuahkan hasil. Pada November 2012, tabungannya sudah mencapai Rp50 juta cukup untuk setoran awal dua kursi haji bersama sang istri.

“Dari tahun 2008 saya belum punya uang sama sekali. Tapi saya terus menyimpan sedikit demi sedikit. Setelah dihitung ternyata sudah cukup untuk mendaftar haji dua orang,” kenangnya.

Setelah mendaftar, Abdul Hamid tetap menabung. Saat masa pelunasan tiba, ia kembali mengandalkan hasil usaha kecilnya hingga mampu melunasi biaya haji sekitar Rp33 juta per orang.

“Alhamdulillah saat pelunasan bisa cukup, bahkan masih ada lebih untuk bekal,” ujarnya penuh syukur.

Di balik senyum bahagia itu, tersimpan rasa haru yang sulit diungkapkan. Abdul Hamid mengaku sempat tidak percaya dirinya yang selama ini hanya berjualan nasi goreng bisa benar-benar menunaikan rukun Islam kelima.

“Sebetulnya saya agak tidak percaya. Masa saya yang dulu tidak punya apa-apa bisa naik haji,” katanya dengan suara terbata-bata.

Perasaan itu semakin kuat ketika ia berada di Tanah Suci. Di tengah lautan jutaan jamaah dari berbagai negara, Abdul Hamid berkali-kali menangis karena merasa mendapat kehormatan besar dari Allah SWT.

Baca Juga:  Polres Pamekasan Dalami Kasus Dugaan Pemukulan Saksi Parpol Saat Rekapitulasi Suara Pemilu

“Setelah menunaikan haji saya nangis terus. Saya terharu bisa naik haji. Alhamdulillah diberi kesempatan menunaikan ibadah haji,” ungkapnya.

Menurutnya, tantangan terbesar selama berhaji bukan hanya menjalankan thawaf atau umrah, melainkan menjaga seluruh rukun dan ketentuan ibadah agar tidak rusak atau batal. Karena itu, setiap langkah dilakukan dengan penuh kehati-hatian.

Kini, menjelang kepulangannya ke tanah air, kisah Abdul Hamid menjadi inspirasi bagi banyak orang. Ia membuktikan bahwa ibadah haji bukan semata soal besarnya penghasilan, melainkan tentang kesungguhan niat, kesabaran menabung, dan keyakinan kepada Allah SWT.

Dari gerobak nasi goreng dan tabungan yang dikumpulkan setiap hari, Abdul Hamid berhasil mewujudkan impian yang selama ini terasa mustahil. Sebuah pelajaran bahwa tidak ada cita-cita yang terlalu tinggi bagi mereka yang mau berusaha. (Ayu/Yan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *