KKN Kolaboratif Gapurana Sulap Limbah Ternak Jadi Pupuk Organik, Dorong Pertanian Berkelanjutan

KARIMATAMEDIA, SUMENEP – Limbah kotoran sapi dan kambing yang selama ini hanya ditumpuk atau dibuang, mulai dimanfaatkan masyarakat Desa Gapurana, Kecamatan Talango, Kabupaten Sumenep, menjadi pupuk organik.

Pemanfaatan limbah ternak tersebut digagas mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif Antar Perguruan Tinggi melalui sosialisasi sekaligus praktik pembuatan pupuk organik di Balai Desa Gapurana, Minggu (9/8/2026).

Kegiatan bertema “Membangun Pertanian Berkelanjutan melalui Pemanfaatan Limbah Kotoran Sapi dan Kambing” itu diikuti Kepala Desa Gapurana Andiwarto, S.Sos., M.M., Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Tri Sutrisno, M.Pd., aparatur desa, kepala dusun, tokoh masyarakat, petani, serta peternak setempat.

Dalam kegiatan tersebut, Yoga Izzul Haq, S.P., selaku Konsultan Bawafie Farm, memberikan pemahaman mengenai formulasi dan tahapan pengolahan kotoran sapi dan kambing agar dapat diubah menjadi pupuk organik yang lebih bermanfaat bagi lahan pertanian.

Tidak hanya menyampaikan teori, mahasiswa KKN bersama Yoga mengajak warga melakukan praktik langsung di halaman Balai Desa Gapurana. Warga ikut terlibat dalam proses pencampuran bahan hingga memahami tahapan pengolahan limbah ternak.

Kepala Desa Gapurana Andiwarto menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, kotoran sapi dan kambing cukup melimpah di desanya, namun selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal karena keterbatasan pengetahuan masyarakat.

Baca Juga:  Dump Truck Dahului Pick Up di Pamekasan, Sebabkan Pengemudi Sepeda Motor Meninggal

“Saya sangat mengapresiasi dan menyambut baik inisiatif adik-adik mahasiswa KKN. Masalah limbah kotoran ternak sapi dan kambing di desa kita ini sebenarnya melimpah, namun selama ini belum dimanfaatkan secara optimal karena keterbatasan pengetahuan warga,” ujar Andiwarto.

Menurutnya, praktik langsung menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga bisa melihat dan memahami tahapan pengolahan limbah hingga menjadi pupuk organik.

Antusiasme warga terlihat sepanjang kegiatan. Sejumlah petani dan peternak yang sebelumnya terbiasa menumpuk kotoran ternak hingga mengering atau membuangnya ke lahan, kini mendapatkan pemahaman bahwa limbah tersebut masih memiliki nilai manfaat apabila diolah dengan campuran dan dekomposer yang tepat.

Selain berpotensi membantu menjaga kesuburan tanah, pemanfaatan limbah ternak menjadi pupuk organik juga dapat menjadi alternatif untuk menekan penggunaan pupuk kimia sekaligus mengurangi limbah di lingkungan sekitar.

Sementara itu, Yoga Izzul Haq, S.P., Konsultan Bawafie Farm, menjelaskan bahwa fermentasi menjadi salah satu tahapan penting dalam pengolahan kotoran ternak.

Baca Juga:  Pemkab Pamekasan Raih Penghargaan Bergengsi dalam Pengelolaan Data Industri

“Pengolahan limbah kotoran sapi dan kambing melalui fermentasi ini bertujuan untuk membakar zat racun dan gulma, serta mengaktifkan mikroorganisme baik,” jelas Yoga.

Menurutnya, pengolahan limbah ternak menjadi pupuk organik diharapkan dapat membantu menjaga kesuburan tanah sekaligus mendukung penerapan pertanian berkelanjutan di Desa Gapurana.

Agar program tidak berhenti setelah mahasiswa menyelesaikan KKN, tim menyiapkan sejumlah tindak lanjut. Di antaranya penyusunan leaflet atau modul ringkas berisi takaran dan tahapan pembuatan pupuk organik yang akan dibagikan kepada setiap kepala dusun.

Tim KKN juga akan melakukan pendampingan terhadap proses pematangan atau fermentasi pupuk hasil praktik selama beberapa minggu. Selain itu, koordinasi dengan pemerintah desa dan tokoh tani akan dilakukan untuk membentuk kelompok atau demonstration plot (demplot) pembuatan pupuk organik.

Pemerintah Desa Gapurana berharap kegiatan tersebut dapat diteruskan masyarakat secara mandiri setelah program KKN berakhir.

“Harapan saya, setelah kegiatan ini, para Kepala Dusun dan tokoh masyarakat bisa menggerakkan warga di wilayahnya masing-masing untuk mulai mempraktikkan hal ini secara mandiri,” kata Andiwarto. (Ainul/Bam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *