KARIMATAMEDIA, PAMEKASAN – Suasana penuh nostalgia dan kehangatan terasa dalam event “Kru Karimata Milenial” yang digelar di Studio Radio Karimata, Jumat (27/3/2026) . Puluhan alumni kru Karimata hadir, berbagi cerita perjalanan mereka saat masih aktif mengudara.
Salah satu alumni, Ofiq, menceritakan awal dirinya bergabung dengan Radio Karimata pada tahun 2000, saat kantor masih berlokasi di Jalan Purba. Ia mengaku proses seleksi saat itu cukup ketat karena diikuti banyak peserta.
“Saya mulai di Karimata tahun 2000. Saya melamar dan dites langsung Mas Adak bersama Mbak Tila, pesertanya banyak sekali,” ujarnya.
Ia juga mengenang kondisi awal yang masih serba sederhana, Menurutnya pada masa tersebut, sistem siaran masih menggunakan peralatan manual berbasis kaset. Hal ini turut dibenarkan oleh Hendra yang juga hadir dalam kegiatan tersebut.
“Sistemnya masih manual, pakai kaset. Iklan-iklan juga disusun berjejer dalam bentuk kaset,” kata Ofiq.
Seiring perkembangan teknologi, Ofiq turut berperan dalam proses digitalisasi lagu menggunakan perangkat lunak.
“Tugas saya setiap malam memasukkan lagu, memotong, lalu menginputnya ke program Cool Edit Pro,” tuturnya.
Ia bahkan harus siaran dari tengah malam hingga pagi bersama rekan-rekannya.
“Saya siaran dari jam 12 malam sampai pagi, waktu itu bersama Mukhlis, Novikal, dan Hesti,” tambahnya.
Sementara itu, Hendra menambahkan bahwa pada masa penggunaan kaset, kendala teknis kerap terjadi sehingga kru dituntut kreatif mencari solusi.
“Kalau kasetnya macet atau kusut, biasanya diputar manual pakai pulpen atau pensil supaya bisa normal lagi,” ungkapnya.
Ia mengaku bergabung saat Radio Karimata mulai memasuki masa transisi dari sistem kaset ke digital.
“Waktu saya masuk, sudah mulai peralihan ke digital dengan menggunakan komputer untuk siaran. Saya termasuk yang ikut mengawali perubahan dari kaset ke digital,” jelasnya.
Menurut Hendra, kebersamaan menjadi hal paling berkesan selama menjadi bagian dari Karimata.
“Yang paling berkesan itu kebersamaan dan solidaritas. Kita seperti satu nasib dan satu perjuangan,” katanya.
Hal senada juga disampaikan Bang Dulla. Ia mengaku sebenarnya tidak ingin meninggalkan Karimata, namun kondisi yang ada membuatnya harus melangkah ke fase berikutnya.
“Sebenarnya saya tidak ingin keluar dari Karimata, tapi karena dinamika yang ada, akhirnya harus melangkah ke tahap selanjutnya,” ujarnya.
Para alumni pun sepakat bahwa kuatnya rasa kekeluargaan menjadi kenangan paling membekas selama bergabung di Karimata. Mereka berharap silaturahmi ini dapat terus terjaga dan kembali terjalin di momen mendatang. (Fauzi)
Karimata Media Dinamika Madura