KARIMATAMEDIA, PAMEKASAN – Fenomena virus Chikungunya (CHIKV) mulai terdeteksi di sejumlah wilayah kerja puskesmas di Kabupaten Pamekasan. Meski demikian, Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan memastikan penyebaran kasus tersebut tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah.
Kepala Dinas Kesehatan Pamekasan, dr. Syaifuddin, menjelaskan bahwa dari total 17 puskesmas yang ada, hanya sekitar 4 wilayah kerja yang melaporkan adanya pasien dengan gejala mengarah ke virus Chikungunya. Hingga saat ini, pihaknya masih melakukan pendalaman data untuk memastikan perkembangan kasus di lapangan.
“Gejala yang paling menonjol itu panas disertai linu-linu yang sangat mengganggu, bahkan ada yang sampai tidak bisa berjalan,” ujar dr. Syaifuddin kepada Jurnalis Karimata Media, Senin (05/01/2026).
Berdasarkan data sementara yang dihimpun Dinkes Pamekasan, suspek Chikungunya tercatat di wilayah kerja Puskesmas Tlanakan, Kadur, Talang, dan Galis. Sementara itu, sejumlah wilayah lainnya dilaporkan tidak ditemukan adanya suspek.
Adapun puskesmas yang dilaporkan tidak terdapat suspek antara lain Teja, Panaguan, Sopaah, Pademawu, Pasean, Batumarmar, Bandaran, Bulangan Haji, Proppo, Pakong, Palengaan, Waru, serta beberapa wilayah lain yang masih dalam kondisi aman.
Ia menyebutkan, jumlah pasien di setiap puskesmas bervariasi, rata-rata berkisar antara 10 hingga 20 orang. Penetapan kasus Chikungunya saat ini masih didasarkan pada pemeriksaan klinis, lantaran sebagian besar pasien belum menjalani pemeriksaan laboratorium.
“Seharusnya memang dilihat dari pemeriksaan darah, tapi saat ini masih berdasarkan klinis, belum semuanya dilakukan pemeriksaan laboratorium,” jelasnya.
Terkait penanganan, dr. Syaifuddin menegaskan bahwa pengobatan Chikungunya bersifat simptomatik, yakni berfokus pada pengurangan rasa nyeri dan peningkatan daya tahan tubuh. Pasien dianjurkan untuk cukup beristirahat, memperbanyak konsumsi cairan, mengonsumsi makanan bergizi, serta vitamin.
“Pengobatannya berupa analgesik untuk mengurangi nyeri, ditambah vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh,” katanya.
Diketahui, virus Chikungunya merupakan virus tropis yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, jenis nyamuk yang juga menjadi vektor demam berdarah. Meski jarang menyebabkan kematian, penyakit ini dapat berdampak besar terhadap aktivitas dan produktivitas penderita.
“Tidak mematikan, tapi sangat mengganggu produktivitas. Biasanya pasien bisa tidak beraktivitas selama lima hari sampai satu minggu,” tambah dr. Syaifuddin.
Dinkes Pamekasan mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dengan aktif memberantas sarang nyamuk hingga ke jentiknya, serta menjaga daya tahan tubuh. Penerapan perilaku hidup bersih dan sehat juga dinilai penting untuk mencegah penyebaran penyakit.
“Yang paling penting itu pemberantasan nyamuk sampai ke jentiknya. Jaga imunitas tubuh, dan kalau sedang flu sebaiknya pakai APD agar tidak menular ke orang lain,” pungkasnya. (Lumi/Sl)
Karimata Media Dinamika Madura