KARIMATA MEDIA, PAMEKASAN – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pamekasan, dr Syaifudin, menegaskan pentingnya menjaga pola makan seimbang selama menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Menurut dr Syaifudin, puasa merupakan ibadah yang sangat berkaitan dengan kebutuhan pokok manusia, yakni makan dan minum. Perubahan waktu makan dari biasanya pagi hari menjadi sahur sekitar pukul empat dini hari, lalu menahan asupan selama kurang lebih 14 jam hingga magrib, membuat tubuh mengalami perubahan ritme biologis.
Ia menjelaskan bahwa tubuh sebenarnya mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut. Namun yang terpenting adalah memastikan asupan makanan tetap sesuai kebutuhan dan tersusun secara proporsional.
“Intinya kebutuhan makan ini harus seimbang. Nutrisi kita harus terporsi secara baik. Karbohidrat sekitar 40 persen, lemak sekitar 30 persen, protein 15 sampai 20 persen, sisanya mineral dan air. Totalnya 100 persen dalam satu hari,” jelasnya saat on air di Dinamika Madura Radio Karimata, Selasa (20/02/2026).
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak berlebihan mengonsumsi gula dan tepung-tepungan, baik saat sahur maupun berbuka. Komposisi makanan harus tetap dijaga agar kebutuhan tubuh terpenuhi tanpa menimbulkan gangguan kesehatan.
Menurutnya, salah satu momen krusial saat puasa adalah waktu berbuka. Setelah 14 jam tidak makan, banyak orang cenderung langsung mengonsumsi makanan dalam jumlah besar.
“Yang penting tetap menjaga ritmenya. Saat pertama berbuka memang harus gula, karena kebutuhan gula tidak bisa ditawar. Tapi jangan gula terus, jangan nasi terus, jangan tepung-tepungan terus. Harus ada sayur, ada protein, mineral, lemaknya juga seimbang,” tegasnya.
Menanggapi kebiasaan masyarakat berbuka dengan es buah dan gorengan, dr Syaifudin menyebut hal tersebut tidak sepenuhnya dilarang, selama tetap dalam batas proporsional.
“Es buah itu memang manis dan menyegarkan, kebutuhan gula di awal memang diperlukan. Tapi jangan keterlaluan manisnya. Gorengan juga hati-hati, karena mengandung lemak. Apalagi kalau minyaknya dipakai berulang-ulang, itu bisa menjadi lemak yang tidak sehat,” ujarnya.
Ia juga menjawab keluhan sebagian masyarakat yang mengalami sulit buang air besar (BAB) selama puasa. Menurutnya, kondisi tersebut umumnya disebabkan kurangnya asupan serat dan cairan.
“BAB itu hasil metabolisme. Kalau komposisinya tidak proporsional, kurang air, kurang buah, kurang serat, bisa terjadi sembelit,” jelasnya.
Untuk mencegahnya, ia menyarankan agar kebutuhan air putih tetap terpenuhi minimal delapan gelas sehari, serta rutin mengonsumsi buah dan sayur yang tinggi serat seperti pisang dan alpukat.
Ia juga menyarankan kebiasaan minum satu gelas air sekitar 300 mililiter saat bangun pagi. Menurutnya, hal itu dapat merangsang gerakan usus atau fast movement yang membantu memperlancar buang air besar dalam waktu sekitar 15 menit setelah minum.
“Intinya makanan harus tetap proporsional. Untuk kelancaran BAB ini membutuhkan asupan tinggi serat dan cukup air,” pungkasnya. (Sukri/Mel)
Karimata Media Dinamika Madura