Foto: Ketua Badan Hisab dan Rukyat (BHR) Kabupaten Pamekasan, H. Hosen, M.HI. (Doc-Karimata)

Penentuan Awal Ramadan 1447 H, Ketua BHR Pamekasan Jelaskan Alasan Hilal Tak Tampak

KARIMATAMEDIA, PAMEKASAN — Rukyatul hilal penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah di Kabupaten Pamekasan pada Selasa (17/02/2026) belum membuahkan hasil. Secara astronomis, hilal dipastikan tidak mungkin terlihat karena ijtima’ baru akan terjadi pada pukul 19.02 WIB, sehingga hari tersebut masih terhitung 30 Sya’ban.

Ketua Badan Hisab dan Rukyat (BHR) Kabupaten Pamekasan, H. Hosen, M.HI, saat mengudara di Radio Karimata menyampaikan bahwa pelaksanaan rukyatul hilal hari pertama melibatkan unsur dari Kementerian Agama Kabupaten Pamekasan. Hadir pula Ketua Pengadilan Agama yang diundang secara resmi, Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Pamekasan, para Kepala KUA, penyuluh agama, serta staf terkait lainnya.

“Yang hari ini hadir dari Kementerian Agama Kabupaten Pamekasan, termasuk Ketua Pengadilan Agama, kemudian Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah, para Kepala KUA, penyuluh, serta staf-staf lainnya. Untuk BHR, PCNU, dan mahasiswa dijadwalkan besok, Rabu (18/02/2026), di hari kedua,” ujar H. Hosen.

Ia menegaskan, secara hisab ijtima’ masih akan terjadi pada malam hari pukul 19.02 WIB. Dengan kondisi tersebut, posisi hilal berada di bawah ufuk dan bahkan telah terbenam bersamaan dengan matahari saat magrib, sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan pengamatan.

Baca Juga:  Perpusda Baru Diresmikan, Pamekasan Siap Gairahkan Budaya Literasi

“Karena ijtima’ terjadi setelah matahari terbenam, maka hari ini masih tanggal 30 Sya’ban. Dalam istilah falak, ini disebut istihalah al-rukyah, artinya hilal memang tidak mungkin terlihat untuk wilayah Indonesia,” jelasnya.

Hosen menambahkan, rukyatul hilal ini tetap dilaksanakan sebagai bagian dari kewajiban dan instruksi dari Kementerian Agama pusat, sekaligus menjadi dasar laporan untuk sidang isbat penentuan awal Ramadan yang akan digelar secara nasional.

Untuk pelaksanaan hari kedua, ia menyebutkan bahwa rukyatul hilal akan melibatkan berbagai unsur lintas lembaga. Selain BHR Kabupaten Pamekasan, juga hadir PCNU Kabupaten Pamekasan beserta Lembaga Falakiyah PCNU, serta mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi, di antaranya UIN Madura, STISA Pakong, Universitas Islam Madura, dan mahasiswa dari Universitas Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep.

“Besok mudah-mudahan cuaca cerah sehingga hilal sudah bisa terlihat. Selain sebagai pemenuhan instruksi dari Kementerian Agama pusat, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa tentang bagaimana tata cara rukyatul hilal yang benar,” ungkapnya.

Baca Juga:  Berkas Lengkap, Kasus Penganiayaan Kurir JNT di Pamekasan Segera Disidangkan

Ia juga menyinggung ketentuan Lembaga Falakiyah PCNU sebagaimana hasil Muktamar NU di Lampung, bahwa rukyat pada hari pertama tidak bersifat wajib karena posisi hilal masih berada di bawah ufuk di seluruh wilayah Indonesia.

Terkait adanya perbedaan dalam mengawali puasa Ramadan 1447 Hijriah, H. Hosen mengajak masyarakat untuk menyikapinya dengan bijak dan penuh toleransi. Ia mencontohkan, sebagian masyarakat telah memulai puasa lebih awal, seperti di wilayah Ketawang Karay Ganding yang diikuti oleh kelompok tertentu.

“Besok, sesuai informasi, Muhammadiyah akan memulai puasa berdasarkan kalender KHGT. Sementara itu, insya Allah hari Kamis pemerintah bersama ormas Islam yang memiliki kriteria yang sama akan memulai puasa Ramadan 1447 Hijriah,” katanya.

Ia menegaskan, perbedaan tersebut tidak boleh menjadi sumber perpecahan di tengah masyarakat.

“Marilah kita saling menghormati perbedaan yang ada dan tidak saling menyalahkan. Ibadah dijalankan sesuai dengan keyakinan masing-masing,” pungkasnya. (Bam/Lum)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *