Perdana di Madura, Petani Sumenep Terapkan Metode Tanam Padi PM-AAS

KARIMATAMEDIA, SUMENEP – Kabupaten Sumenep menjadi daerah pertama di Madura yang menerapkan metode tanam padi Pertanian Modern–Advance Agricultural System (PM-AAS). Penanaman perdana dilakukan di lahan seluas 0,5 hektare milik Kelompok Tani Mekarsari, Desa Nyapar, Kecamatan Dasuk, Rabu (15/7/2026), sebagai upaya meningkatkan produktivitas hasil panen.

Koordinator Tim Kerja Penyuluh Pertanian Kabupaten Sumenep Dewo Ringgih mengatakan, penerapan metode PM-AAS merupakan bagian dari inovasi yang diperkenalkan Kementerian Pertanian RI untuk meningkatkan produksi padi di tengah kebutuhan pangan yang terus meningkat.

“Melalui metode PM-AAS ini diharapkan produktivitas padi bisa meningkat hingga sekitar 10 ton per hektare. Karena itu, pendampingan kepada petani menjadi hal yang sangat penting agar penerapannya berjalan optimal,” ujarnya.

Penanaman perdana menggunakan varietas Inpari 49 yang dikenal memiliki masa panen relatif singkat, tahan rebah, tahan terhadap serangan wereng batang cokelat, serta menghasilkan beras dengan tekstur pulen. Program ini selanjutnya akan diperluas ke sejumlah wilayah lain di Kabupaten Sumenep hingga akhir 2026.

Baca Juga:  Ambulans Ditodong Saat Bawa Jenazah, Polisi Sumenep Berhasil Amankan Pelaku

Ketua Kelompok Tani Mekarsari Syaiful Bahri mengaku metode tersebut lebih efisien dibanding pola tanam konvensional, baik dari sisi biaya maupun waktu pengerjaan di lapangan.

“Biaya tanam lebih hemat dan proses penanaman juga jauh lebih cepat. Dalam hitungan menit penanaman sudah bisa diselesaikan menggunakan peralatan yang tersedia,” katanya.

Meski menawarkan efisiensi, metode PM-AAS juga memiliki tantangan. Sistem tanam yang membutuhkan air lebih sedikit berpotensi memicu pertumbuhan gulma, sementara penanaman yang tidak dilakukan serentak dapat meningkatkan risiko serangan hama dan penyakit tanaman.

Menanggapi kondisi tersebut, Dewo menjelaskan pengawasan intensif akan dilakukan oleh penyuluh pertanian dan Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT). Sejumlah langkah antisipasi telah disiapkan, mulai dari penggunaan herbisida, pestisida, insektisida hingga rodentisida yang disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.

Baca Juga:  Polda Jatim Berikan Dukungan Penuh untuk Penanganan Kasus Penganiayaan dengan Korban Jiwa

“Pengawalan dari PPL dan POPT menjadi kunci agar berbagai potensi gangguan bisa diantisipasi sejak dini sehingga target peningkatan produksi dapat tercapai,” jelasnya.

Sementara itu, Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Dasuk Irawan Budiantoro menegaskan pihaknya siap mendampingi petani selama penerapan PM-AAS, termasuk memastikan ketersediaan benih unggul, alat pertanian, pupuk, serta sarana produksi lainnya.

Metode PM-AAS mengedepankan tanam benih langsung (tabela) dengan jarak tanam rapat, didukung mekanisasi pertanian, efisiensi penggunaan air dan pupuk, pengendalian hama sesuai fase pertumbuhan tanaman, serta pengelolaan usaha tani dalam skala yang lebih luas. Melalui pendekatan tersebut, produktivitas padi yang selama ini rata-rata mencapai 6–7 ton per hektare ditargetkan meningkat hingga sekitar 10 ton per hektare. (Bam/Ain)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *