KARIMATAMEDIA, JAKARTA – Virus hantavirus belakangan ini kembali ramai diperbincangkan setelah muncul kabar penyebarannya di kapal pesiar MV Hondius yang tengah berlayar di Cape Verde, Afrika, dan dilaporkan menewaskan tiga orang. Menanggapi hal tersebut, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) meminta masyarakat tidak panik dan tetap menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Ketua Umum PP IDAI, Piprim Basarah Yanuarso mengatakan hantavirus bukan virus baru dan penularannya berbeda dengan COVID-19.
“Sebagai masyarakat, sebagai orang tua, jangan panik dulu karena belum tentu juga apa yang terjadi itu bisa menularnya seperti COVID-19,” ujarnya di Jakarta, Jumat (8/5/2026) dikutip dari Antara.
Ia menjelaskan hantavirus berasal dari hewan pengerat seperti tikus. Penularan antarmanusia dapat terjadi jika ada kontak erat berkepanjangan dengan penderita. Karena itu, masyarakat diminta menjaga kebersihan lingkungan, terutama area penyimpanan makanan agar terbebas dari tikus.
Menurutnya, hingga saat ini belum tersedia vaksin untuk hantavirus sehingga langkah utama pencegahan dilakukan melalui PHBS seperti rajin mencuci tangan, menjaga sanitasi, serta membersihkan lingkungan secara rutin.
Pakar infeksi penyakit tropik IDAI, Dominicus Husada menambahkan bahwa Indonesia juga belum pernah melaporkan adanya penularan hantavirus jenis Andes yang ramai dikaitkan dengan kasus di kapal pesiar MV Hondius.
Sementara itu, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Aji Muhawarman menyebut dua kasus suspek hantavirus yang baru terdeteksi di Indonesia telah dinyatakan negatif dan sembuh.
“Yang dua suspek, info hari ini sudah negatif dan sembuh,” kata Aji .
Kemenkes mencatat hantavirus bukan kasus baru di Indonesia. Sejak 2024 hingga awal 2026 terdapat 23 kasus hantavirus yang tersebar di sembilan provinsi, dengan tiga kasus di antaranya meninggal dunia.
Kasus terbanyak ditemukan di DIY dan DKI Jakarta masing-masing enam kasus. Selain itu, kasus juga ditemukan di Sumatera Barat, Banten, Kalimantan Barat, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Utara.
Kemenkes menyebut seluruh kasus terkonfirmasi di Indonesia merupakan hantavirus varian Seoul. Berdasarkan catatan tahunan, satu kasus ditemukan pada 2024, meningkat menjadi 17 kasus pada 2025, dan lima kasus tercatat hingga pertengahan 2026.
World Health Organization (WHO) menjelaskan hantavirus merupakan kelompok virus zoonotik yang secara alami menginfeksi hewan pengerat seperti tikus dan dapat menular ke manusia. Infeksi virus ini dapat menyebabkan gangguan pernapasan maupun gangguan ginjal tergantung jenis virusnya. (Fauzi/Ain)
Karimata Media Dinamika Madura