Juara 1 Jatim’s Got Talent 2026, Kanza Bawa Budaya Madura ke Thailand

KARIMATAMEDIA, PAMEKASAN – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan generasi muda Pamekasan, Madura. Kanza Nabila Khairani Imran, siswi SMAN 1 Pamekasan, sukses menyabet juara 1 dalam ajang Jatim’s Got Talent 2026. Tak sekadar membawa pulang gelar juara, Kanza juga berhak menjadi delegasi Indonesia untuk tampil dalam ajang internasional di Thailand dengan pembiayaan penuh.

Capaian tersebut diraih setelah Kanza tampil di Grand Final Jatim’s Got Talent 2026 yang berlangsung di Ciputra World Surabaya, 24 Oktober 2026. Dalam kompetisi yang diikuti ratusan peserta dari berbagai jenjang pendidikan di Jawa Timur itu, Kanza tampil dengan konsep berbeda, mengawinkan kemampuan storytelling berbahasa Inggris dengan seni dan budaya khas Madura.

Kanza mengaku bersyukur dapat meraih posisi tertinggi dalam kompetisi tersebut. Perjalanan menuju panggung final, menurutnya, dimulai dari pendaftaran dan audisi daring yang dibagi menjadi dua sesi sebelum para peserta terbaik melaju ke Grand Final.

“Benar sekali, Bapak, alhamdulillah saya sudah berhasil meraih juara satu,” ungkap Kanza saat On Air di Radio Karimata Dinamika Madura, Kamis (29/10/2026).

Informasi mengenai kompetisi itu pertama kali diperolehnya melalui Facebook. Namun, promosi Jatim’s Got Talent juga tersebar melalui berbagai platform media sosial, seperti Instagram dan TikTok, serta melalui sejumlah sekolah.

Menariknya, Kanza tidak hanya mengandalkan satu kemampuan. Ia memadukan tiga unsur pertunjukan, yakni menyanyi, storytelling, dan tari tradisional. Cerita rakyat Madura tentang Potre Koneng menjadi bagian utama penampilannya, yang kemudian diperkuat dengan tarian Topeng Gethak khas Pamekasan.

Baca Juga:  Empat Kampus Ternama Bersinergi Gelar KKN Kolaboratif di Talango, Sumenep

Kanza menjelaskan, storytelling merupakan kemampuan yang paling lama ia tekuni. Ketertarikannya pada seni bercerita sudah dimulai sejak duduk di bangku sekolah dasar, ketika ia menggunakan bahasa Indonesia. Saat SMA, ia mulai mengikuti sejumlah perlombaan storytelling berbahasa Inggris.

“Saya memulai bakat saya di storytelling dimulai dari SD apabila berbahasa Indonesia, akan tetapi saya mengikuti beberapa lomba storytelling bahasa Inggris dimulai dari SMA,” tuturnya.

Pengalaman tersebut menjadi bekal bagi Kanza untuk terus mengembangkan kemampuan sekaligus membangun kepercayaan diri di atas panggung.

Sementara itu, untuk kemampuan menari, Kanza belajar melalui sejumlah sanggar, termasuk Sanggar Genta, serta mendapat bimbingan dari guru kesenian. Ide memadukan cerita Potre Koneng dengan tari Topeng Gethak muncul karena kisah tersebut berkaitan dengan kelahiran Jokotole pada bagian akhir cerita yang dibawakannya.

Bahkan, Kanza mengaku hanya menjalani dua kali latihan untuk mempersiapkan tarian Topeng Gethak sebelum tampil di Grand Final. Waktu persiapan yang terbatas tak menyurutkan langkahnya untuk menghadirkan pertunjukan yang memadukan cerita rakyat, kemampuan bahasa Inggris, dan kesenian tradisional Madura.

“Nah, istimewanya di sini saya berlatih Topeng Gethak itu hanya dengan dua kali latihan, karena memang benar-benar buru-buru dan mepet deadline banget untuk tampil di Grand Final,” jelasnya.

Baca Juga:  Waspada Peredaran Uang Palsu di Pamekasan Jelang Idul Fitri 1447 H

Kini, tantangan berikutnya menanti Kanza di Thailand. Berbekal kemenangan di Jatim’s Got Talent 2026, ia mendapatkan beasiswa delegasi atau pembiayaan penuh untuk mengikuti ajang internasional yang difasilitasi ALO Foundation.

Kanza mengatakan, persiapan menuju Thailand tidak hanya berfokus pada penyempurnaan penampilan, tetapi juga kesiapan fisik dan mental. Ia ingin memberikan kemampuan terbaik agar dapat memperkenalkan kekayaan seni dan budaya Indonesia di panggung internasional.

“Persiapan tentu saja saya menyiapkan fisik, mental, dan latihan-latihan yang lain agar memperkuat atau memperbagus performa saya nanti di Thailand. Agar dapat membanggakan nama Indonesia,” tegasnya.

Meski merasa penampilannya sudah cukup matang, Kanza mengaku belum ingin berpuas diri. Ia memilih terus belajar dan memperbaiki kekurangan demi menghadapi tantangan berikutnya.

Di balik prestasi tersebut, ada sosok ibu yang menjadi sumber inspirasinya. Kanza mengungkapkan, ketertarikannya pada dunia komunikasi dan penyiaran tumbuh sejak kecil karena sering melihat ibunya bekerja sebagai penyiar radio.

Prestasi Kanza menjadi bukti bahwa kecintaan terhadap budaya lokal dapat berjalan beriringan dengan kemampuan berbahasa internasional. Dari panggung kompetisi di Surabaya, siswi SMAN 1 Pamekasan itu kini bersiap membawa cerita rakyat Madura dan seni Topeng Gethak ke Thailand, sekaligus memperkenalkan identitas budaya daerah di hadapan audiens internasional. (Lumi/Sl)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *