Dari Hafalan ke Prestasi, Empat Santri Banyuanyar Bersinar di Tingkat Nasional 

KARIMATAMEDIA, PAMEKASAN – Empat santri SMA Tahfidz Darul Ulum Banyuanyar, Pamekasan, menorehkan prestasi dalam ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional UM XVIII Tahun 2026. Mereka meraih prestasi pada cabang Musabaqah Hifzhil Qur’an (MHQ) dan MTQ, dengan capaian hafalan hingga 30 juz.

Mohammad Dzkijo meraih juara I MHQ 10 juz, Ahmad Bahrur Reyhan meraih juara II MHQ 20 juz, Raihan Haqqian Maulana meraih harapan II MHQ 30 juz, sedangkan Ainur Ridho meraih harapan II cabang MTQ.

Kisah perjuangan keempat santri tersebut dibagikan saat menjadi narasumber dalam program MBI Radio Karimata, Minggu (25/10/2026) pagi. Dalam perbincangan itu, mereka menceritakan perjalanan menghafal Al-Qur’an, dukungan keluarga, hingga persiapan menghadapi perlombaan tingkat nasional.

Mohammad Dzkijo mengungkapkan, keinginannya menghafal Al-Qur’an pada awalnya banyak didorong oleh orang tua. Ia mengaku sempat mengalami kesulitan beradaptasi ketika menjalani pendidikan di pondok pesantren.

“Sebenarnya dari dulu memang tidak ada niatan menghafal Al-Qur’an. Ini semua dorongan dari orang tua,” ungkapnya.

Baca Juga:  Hasil Razia Balap Liar Selama Ramadan, Ratusan Motor Mulai Dikembalikan

Dzkijo mulai menghafal Al-Qur’an secara serius sejak duduk di bangku SMP. Setelah melanjutkan pendidikan ke SMA Tahfidz Darul Ulum Banyuanyar, ia juga mendapat kesempatan mengikuti perlombaan yang membantunya membangun mental dan menguji kemampuan hafalan.

“Alhamdulillah, kemarin ini prestasi terbesar saya dalam hidup. Bisa juara satu di tingkat nasional,” tuturnya.

Sementara itu, Ahmad Bahrur Reyhan mengaku mulai menghafal Al-Qur’an sejak usia dini dengan mendengarkan bacaan orang tuanya. Kebiasaan tersebut kemudian menjadi bagian dari rutinitasnya dalam menambah dan menjaga hafalan.

Ia menjelaskan, salah satu cara menghafal yang diterapkannya adalah membagi target secara bertahap.

“Cara menghafalnya satu hari satu halaman,” jelas Ahmad Bahrur.

Adapun Raihan Haqqian Maulana, peraih harapan II MHQ 30 juz, telah mengenal kegiatan menghafal Al-Qur’an sebelum menempuh pendidikan di Banyuanyar. Ia mengaku mendapat dorongan dari keluarga sekaligus memiliki keinginan sendiri untuk mendalami hafalan Al-Qur’an.

Baca Juga:  Selain Pornografi, Kacong Arye Terlibat Kasus Dugaan Penggelapan Uang Hingga 50 Juta

Menurut Raihan, menjaga hafalan membutuhkan semangat dan konsistensi. Salah satu caranya adalah membaca kembali ayat-ayat yang baru dihafal ketika melaksanakan salat.

“Selain didorong orang tua, itu harus ada semangat,” ujarnya.

Sementara itu, Ainur Ridho, peraih harapan II cabang MTQ, mulai mengenal dunia perlombaan sejak duduk di bangku sekolah dasar. Sebelum menekuni tilawah, ia pernah mengikuti sejumlah kegiatan bernuansa Islami, termasuk lomba nasyid dan selawat.

Perjalanan tersebut kemudian membawanya mengikuti perlombaan MTQ hingga terpilih mewakili Pamekasan. Ia menyebut pengaturan waktu menjadi salah satu hal penting untuk menyeimbangkan kegiatan belajar dan latihan.

“Waktunya saja diatur,” katanya.

Keempat santri tersebut juga menceritakan bahwa pihak pesantren memberikan kesempatan kepada santri yang dinilai siap untuk mengikuti perlombaan. Persiapan dilakukan melalui pembelajaran dan penguatan hafalan sesuai kemampuan masing-masing. (Ainul/Lum)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *