KARIMATAMEDIA, PAMEKASAN – Fenomena “freestyle” di kalangan pelajar yang tengah marak di berbagai daerah, meski belum terjadi di Kabupaten Pamekasan, tetap menjadi perhatian serius Dinas Pendidikan setempat.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pamekasan, Basri Yulianto, menegaskan bahwa kejadian di luar daerah harus menjadi peringatan dini bagi semua pihak, terutama satuan pendidikan di Pamekasan. Hal ini disampaikannya sebagai bentuk imbauan dalam rangka menciptakan budaya sekolah aman dan nyaman.
“Baik, seiring dengan kebijakan pemerintah pusat melalui Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang budaya sekolah aman dan nyaman, kami mengimbau kepada seluruh sekolah, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan untuk meningkatkan pengawasan selama jam pembelajaran,” kata Basri Yulianto, saat on air di Radio Karimata, Jumat (08/05/2026).
Ia menjelaskan, pengawasan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga peran orang tua di luar jam belajar. Menurutnya, aktivitas yang meniru gerakan berisiko seperti freestyle dapat berdampak serius terhadap keselamatan siswa.
“Budaya sekolah aman dan nyaman itu menjamin anak-anak aman secara fisik. Kalau sampai melakukan hal-hal yang berisiko, dampaknya bisa berat, mulai dari cedera hingga hal yang paling fatal seperti meninggal dunia atau cacat fisik. Ini menjadi tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Basri juga menambahkan, pihaknya akan segera meneruskan imbauan tersebut ke seluruh jenjang pendidikan di Pamekasan, mulai dari SD hingga SMP, agar guru dan tenaga pendidik meningkatkan pengawasan, termasuk saat jam istirahat.
“Dalam waktu dekat, kami akan teruskan imbauan ini ke seluruh satuan pendidikan. Termasuk masukan dari orang tua agar pengawasan saat jam istirahat lebih diperketat,” jelasnya.
Ia juga memastikan bahwa imbauan tersebut akan disosialisasikan kepada peserta didik melalui pihak sekolah agar siswa memahami risiko dari tren atau aktivitas yang dapat membahayakan diri.
“Harapan kami, setelah ada sosialisasi dari sekolah, anak-anak bisa lebih paham bahwa hal-hal seperti ini sangat berbahaya,” pungkasnya.
Sebagai catatan, fenomena serupa sebelumnya telah menimbulkan korban jiwa di daerah lain. Seorang siswa kelas 1 SD asal Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, dilaporkan meninggal dunia setelah diduga meniru gerakan “freestyle” yang ia lihat dari konten permainan atau video viral di media sosial. Peristiwa tersebut menjadi perhatian publik dan pengingat bahwa tren digital yang tidak disaring dapat berdampak fatal bagi anak-anak.(Sukriyanto/Ayg)
Karimata Media Dinamika Madura