Prof. Masdar Hilmy Tantang Wisudawan STEI MM Jadi Pencipta Lapangan Kerja dan Penggerak Ekonomi Kemaslahatan

KARIMATAMEDIA, PAMEKASAN – Wisudawan tidak cukup hanya mengantongi gelar sarjana. Mereka dituntut mampu menghadirkan kebermanfaatan, menjadi pembeda di tengah masyarakat, serta mengambil peran dalam membangun ekonomi yang berpihak pada kemaslahatan publik dan kemanusiaan.

Pesan tersebut disampaikan Koordinator Kopertais Wilayah IV Jawa Timur, Prof. Masdar Hilmy, dalam rangkaian Wisuda Strata Satu Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Masyarakat Madani (STEI MM) Sumber Bungur, Pakong, di Ballroom Azana Style Hotel Pamekasan, Sabtu (7/11/2026).

Dalam orasinya, Prof. Masdar mengingatkan bahwa tantangan ekonomi saat ini tidaklah mudah. Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya membaik membuat peluang usaha dan lapangan pekerjaan semakin kompetitif.

Karena itu, ia mendorong para lulusan agar tidak hanya berorientasi mencari pekerjaan, tetapi mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan di masyarakat.

Baca Juga:  Tim SAR Perluas Pencarian KM Virgo Transport 8 ke Jalur Darat

“Jangan mencari pekerjaan, tetapi ciptakan pekerjaan. Jadilah solusi, bukan hanya mencari solusi,” pesannya.

Ia juga menekankan pentingnya kedewasaan, kebijaksanaan, serta integritas dalam menghadapi dinamika kehidupan setelah menyandang gelar sarjana.

Menurutnya, pendidikan tidak boleh berhenti setelah wisuda. Para lulusan harus terus mengembangkan kapasitas diri, membudayakan membaca buku, dan tidak pernah bosan belajar. Bahkan, ia mendorong wisudawan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, termasuk strata dua (S2).

“Jangan pernah bosan belajar. Sarjana harus terus meningkatkan kapasitas keilmuannya,” pesannya.

Secara khusus, Prof. Masdar mengingatkan agar para lulusan tetap menjaga nilai-nilai keislaman dalam setiap aktivitas, termasuk ketika terjun ke dunia ekonomi dan bisnis.

Ia mengajak para sarjana ekonomi Islam untuk tidak sekadar mengikuti arus pemikiran ekonomi liberal yang dinilai belum tentu menghadirkan kesejahteraan dan kebersamaan bagi masyarakat.

Baca Juga:  Madura United Soroti Regulasi yang Masih Membingungkan

Sebaliknya, para lulusan diharapkan mampu membangun praktik ekonomi Islam yang berorientasi pada kemaslahatan, keadilan, kesejahteraan bersama, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Menurutnya, gelar akademik harus dibuktikan melalui kontribusi nyata. Kehadiran seorang sarjana semestinya membawa perubahan positif, memberikan manfaat, serta menjadi inspirasi di lingkungan tempat mereka berada.

“Tantangan Anda sebagai wisudawan adalah menghadirkan kebermanfaatan. Sarjana harus menjadi pembeda di tengah masyarakat,” tegasnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tinggi tidak hanya diukur dari gelar yang diperoleh, tetapi juga dari sejauh mana ilmu pengetahuan mampu diterjemahkan menjadi karya, kemandirian, dan kemaslahatan bagi masyarakat. (Suk/Ag)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *