KARIMATAMEDIA, PAMEKASAN – Di bawah terik matahari pagi di jalanan Pamekasan, Fauzi menggenggam satu cup kopi dingin yang baru saja ia racik. Dari gerobak sederhana, ia menyapa setiap pengendara yang melintas dengan harapan: ada yang berhenti, ada yang membeli.
Namun, dibalik senyumnya, ada beban yang tak ringan.
Fauzi, penjual kopi cup keliling asal Proppo, kini harus menghadapi kenyataan pahit. Harga bahan baku, terutama plastik untuk cup, terus merangkak naik. Ia menyebut kenaikan itu sebagai dampak dari konflik di kawasan Timur Tengah yang tak kunjung usai.
“Saya tetap jual di harga Rp8.000 sampai Rp10.000, tidak bisa menaikkan harga, kasihan ke pembeli,” ujar Fauzi kepada jurnalis Karimata Media, Senin (05/06/2026).
Keputusan itu bukan tanpa konsekuensi. Jika dulu harga cup plastik hanya sekitar Rp40.000 per 100 pcs, kini melonjak menjadi Rp50.000. Belum lagi biaya sablon cup yang mencapai Rp20.000 per 100 pcs. Semua itu menggerus keuntungan yang seharusnya bisa dibawa pulang.
Bagi Fauzi, berdagang kopi bukan sekadar mencari uang, tapi juga soal menjaga kepercayaan pelanggan. Ia tahu betul, sebagian pembelinya adalah masyarakat kecil yang juga sedang berjuang.
Kondisinya semakin sulit karena ia tidak sepenuhnya mandiri. Fauzi masih bekerja dengan sistem bagi hasil, yang membuat pendapatannya semakin terbatas di tengah naiknya biaya produksi.
Meski demikian, ia tetap memilih bertahan. Setiap hari, ia membawa gerobak listriknya, menyusuri jalanan, dan menjajakan kopi dengan harga yang sama—sebuah pilihan yang mungkin sederhana, tapi sarat makna.
Di tengah ketidakpastian, Fauzi hanya punya satu harapan: keadaan kembali normal.
“Agar kami yang kecil seperti ini bisa tetap hidup,” ujarnya lirih.
Cerita Fauzi adalah potret kecil dari dampak besar sebuah konflik yang jauh dari sini, namun terasa hingga ke sudut-sudut jalan di Madura. Sebuah pengingat, bahwa di balik secangkir kopi, ada perjuangan yang tak selalu terlihat. (Sukri/Ain)
Karimata Media Dinamika Madura