Santri PP SABAR Saat di MBI. (Doc-Karimata)

Dari Pesantren ke Panggung Nasional, Santri PP SABAR Juara 1 Debat Mandarin

KARIMATAMEDIA, PAMEKASAN – Santri Pondok Pesantren Syekh Abdurrahman Rabah (PP SABAR) berhasil menorehkan prestasi di tingkat nasional dalam Disway Mandarin Debate & Speech Competition 2026.

Salah satu prestasi diraih pada kategori Debat Bahasa Mandarin tingkat SMA sederajat. Nahdatus Syifa, Alfin Iskandar, dan Taufiqurrohim berhasil meraih Juara 1 tingkat nasional dalam kompetisi tersebut.

Dewan Pengasuh sekaligus Ketua Yayasan PP SABAR, K. Abdul Hamid atau yang akrab disapa Kyai Mansuhana, mengatakan pengembangan bahasa asing di PP SABAR telah dilakukan sejak 2019. Selain bahasa Mandarin, santri juga mendapatkan pembelajaran bahasa Arab, Inggris, dan Korea.

“Santri ini belajar Mandarin secara estafet. Ikut lomba pertama kali langsung dapat juara satu,” kata Kyai Mansuhana.

Menurutnya, pembelajaran bahasa Mandarin menjadi bagian dari upaya memberikan keterampilan tambahan kepada santri, tanpa meninggalkan pembelajaran utama di pesantren, termasuk kajian kitab kuning.

Selain pembelajaran di kelas, santri juga dibiasakan menggunakan bahasa Mandarin dalam lingkungan pesantren, khususnya bagi santri yang mengikuti program Mandarin. Pembiasaan tersebut dilakukan agar kemampuan bahasa dapat diterapkan dalam komunikasi sehari-hari.

Baca Juga:  Pembongkaran Bilik Narkoba di Makam Ronggosukowati, 4 Orang Diamankan

“Di PP SABAR, santri selain belajar kitab juga bisa belajar bahasa Mandarin,” ujarnya.

Kyai Mansuhana menjelaskan, santri yang telah menguasai bahasa Mandarin juga diarahkan untuk membantu mengajarkan bahasa tersebut kepada santri lainnya. Sebelum menjadi tutor, santri mendapatkan pengalaman belajar dari luar pesantren selama sekitar dua bulan, sekaligus dilatih mengelola kelas.

Selain prestasi di tingkat nasional, para santri pemenang juga direncanakan berangkat ke China. Persiapan administrasi, termasuk paspor, telah dilakukan dan keberangkatan diperkirakan akhir bulan ini.

Pihak pesantren terus memberikan motivasi agar prestasi yang diraih tidak membuat santri terlena. Para santri didorong untuk melihat keberhasilan sebagai bagian dari proses panjang dalam mengembangkan kemampuan.

“Sukses itu perjalanan, jadi tidak boleh terlena dengan juara,” katanya.

Sementara itu, Taufiqurrohim, salah satu santri PP SABAR, mengaku mulai tertarik mempelajari bahasa Mandarin sebelum masuk pesantren. Ketertarikan tersebut berawal dari rasa penasaran ketika mengetahui adanya pembelajaran bahasa Mandarin di lingkungan pesantren.

Baca Juga:  Lubna dan Firda, Santri MTs Syekh Abdurrahman Ciptakan Mesin Lipat Baju Otomatis

“Dipondok tapi kenapa ada bahasa Mandarin,” kata Taufiqurrohim.

Ia mengatakan, persiapan menghadapi kompetisi dilakukan sekitar empat hari. Waktu persiapan tersebut bertepatan dengan masa libur pesantren.

Santri lainnya, Nahdatus Syifa, mengatakan pembelajaran bahasa Mandarin memiliki tantangan tersendiri. Menurutnya, kemampuan membaca belum tentu membuat seseorang langsung mampu menulis bahasa Mandarin dengan baik.

“Belajar bahasa Mandarin ada gampang dan sulitnya. Kalau bisa baca belum tentu bisa nulis,” ujar Nahdatus Syifa.

Ia berharap kemampuan bahasa Mandarin yang dipelajari di pesantren dapat menjadi bekal untuk melanjutkan pendidikan maupun bekerja di China. Untuk itu, ia menyebut kemampuan membagi waktu menjadi salah satu hal penting selama menjalani pendidikan di pesantren.

Sementara Alfin Iskandar mengatakan penggunaan bahasa Mandarin juga diterapkan dalam komunikasi sesama santri di kompleks Mandarin. Penggunaan bahasa tersebut menjadi bagian dari latihan untuk meningkatkan kemampuan sekaligus mempersiapkan diri menghadapi kompetisi.

Menurutnya, ketika ada lawan yang kuat, harus bisa membuat argumennya jatuh. (Mel/Ns)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *