Sentra Ukir Karduluk Bertahan Lintas Generasi, Mahasiswa P2M UNIA Dorong Promosi Digital

KARIMATAMEDIA, SUMENEP – Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, terus mempertahankan reputasinya sebagai salah satu sentra ukir kayu di Madura. Tradisi seni ukir yang diwariskan turun-temurun masih menjadi identitas masyarakat setempat dan kini mendapat perhatian dari Mahasiswa Program Pengabdian kepada Masyarakat (P2M) Universitas Al-Amien Prenduan Kelompok VI melalui program penguatan potensi desa berbasis digital.

Sebagai langkah awal program tersebut, mahasiswa P2M bersilaturahmi sekaligus berdialog dengan salah satu pengrajin ukir senior Desa Karduluk, Slamet Riyadi, Sabtu (18/7/2026). Kegiatan itu diisi dengan pengamatan proses produksi, pendokumentasian karya, serta diskusi mengenai sejarah seni ukir, pemasaran, hingga peluang promosi digital untuk memperluas jangkauan pasar.

Slamet Riyadi mengaku telah menggeluti dunia seni ukir sejak dekade 1980-an. Ketertarikannya terhadap seni muncul sejak duduk di bangku kelas V sekolah dasar dan terus berkembang hingga menjadi profesi yang ditekuni selama puluhan tahun.

“Sejak kecil saya sudah suka menggambar dan membuat patung. Lama-kelamaan kemampuan itu saya terapkan ke dunia ukir yang memang sudah menjadi identitas Desa Karduluk,” ujarnya.

Beragam karya lahir dari sentra ukir miliknya, mulai dari belawong atau tempat keris, hiasan dinding bertema karapan sapi, vas, hingga lambang Keraton Sumenep. Sebagian besar produk dibuat berdasarkan pesanan dengan desain yang disesuaikan kebutuhan pelanggan.

Baca Juga:  Semarak Hari Kartini di Udara, Radio Karimata Soroti Peran Perempuan Lewat Siaran Khusus

Meski perkembangan teknologi semakin pesat, Slamet tetap mempertahankan teknik ukir manual. Menurutnya, sentuhan tangan pengrajin masih menjadi kunci untuk menghasilkan detail motif yang rumit dan bernilai seni tinggi.

Produk hasil karyanya telah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia, seperti Pekalongan, Bali, Banten, Bandung, Jakarta, Sulawesi, hingga Kalimantan. Jaringan pelanggan lama dan keikutsertaan dalam berbagai pameran kerajinan, termasuk Pekan Raya Jakarta (PRJ), menjadi sarana utama memperluas pasar.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah ketika menerima pesanan sekitar 100 hiasan dinding bertema karapan sapi dari Pemerintah Kabupaten Sumenep yang berhasil diselesaikan hanya dalam waktu 16 hari.

Selain masyarakat umum, pelanggan tetapnya berasal dari berbagai instansi pemerintah, mulai dari anggota DPRD, Pemerintah Kabupaten Sumenep, hingga Pendopo Keraton Sumenep.

“Kalau ingin melihat lebih banyak karya ukir kami, silakan datang ke Pendopo Keraton Sumenep. Sebagian besar ukiran di sana merupakan hasil pekerjaan kami,” katanya.

Saat ini, sentra ukir yang dikelolanya mempekerjakan sekitar 17 pengrajin dari berbagai kelompok usia. Menurut Slamet, regenerasi pengrajin di Desa Karduluk masih berjalan baik karena anak-anak telah terbiasa melihat aktivitas mengukir sejak kecil.

“Alakoh sambil ajhelen,” tuturnya, menggambarkan bahwa budaya mengukir telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Karduluk.

Baca Juga:  Madura United Resmi Rekrut Ahmad Nufiandani untuk Musim 2025/2026

Meski pemasaran relatif tidak menjadi kendala, Slamet mengungkapkan tantangan terbesar saat ini adalah semakin terbatasnya ketersediaan bahan baku kayu. Untuk memenuhi kebutuhan produksi, ia kini lebih banyak menggunakan kayu jati, mahoni, dan akasia.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan usaha tidak hanya bergantung pada kualitas produk, tetapi juga pada kejujuran dan ketepatan waktu dalam memenuhi pesanan pelanggan.

“Prinsip jujur dan tepat waktu tidak hanya berlaku dalam dunia usaha, tetapi juga dalam kehidupan. Ketika seseorang dikenal jujur dan tepat waktu, kepercayaan akan datang dengan sendirinya. Saat kepercayaan itu sudah melekat, jalan hidup akan dipertemukan dengan orang-orang baik yang membuka berbagai kemudahan,” pesannya.

Slamet juga berharap generasi muda tetap menempuh pendidikan setinggi mungkin tanpa meninggalkan tradisi seni ukir yang telah menjadi identitas Desa Karduluk selama bertahun-tahun.

Sementara itu, Mahasiswa P2M Universitas Al-Amien Prenduan Kelompok VI menyatakan hasil dialog dan dokumentasi tersebut akan menjadi bagian dari pemetaan potensi unggulan desa yang dipublikasikan melalui berbagai media digital. Upaya tersebut diharapkan mampu memperkuat citra Desa Karduluk sebagai sentra ukir unggulan di Kabupaten Sumenep sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas bagi para pengrajin lokal. (Bimasbuqien Abdillah – Mi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *