Dhuwa’, Buah Lokal Madura. (Doc-KarimataMedia)

Live TikTok Ramai Memanen Dhuwa’, Buah Lokal Madura yang Kian Sulit Ditemui

KARIMATA MEDIA, SUMENEP – Dari siaran langsung di pohon hingga nostalgia rasa masa kecil, buah jamblang kembali menarik perhatian. Di tengah ramainya konten digital, keberadaannya menyimpan cerita tentang kekayaan buah lokal yang belum banyak dikenal generasi sekarang.

Buah berwarna ungu gelap hingga kehitaman itu mungkin tak lagi mudah ditemukan di lapak buah modern. Namun, belakangan, perhatian terhadap buah yang dikenal sebagai duwet atau jamblang tersebut kembali muncul melalui siaran langsung di TikTok, ketika sejumlah orang memperlihatkan aktivitas memetik dan menikmati buah yang tumbuh di pepohonan.

Di Madura, buah ini dikenal dengan sebutan dhuwa’. Bagi sebagian masyarakat, keberadaannya bukan sekadar urusan rasa, melainkan juga menyimpan kenangan tentang masa ketika buah-buahan liar masih menjadi bagian dari pengalaman sehari-hari.

Warna buah yang semakin gelap saat matang, bentuknya yang kecil, serta perpaduan rasa manis dan sepat menjadi ciri khas yang membedakannya dari buah-buahan yang lazim dijumpai di pasaran.

Di balik penampilannya yang sederhana, dhuwa’ menghadirkan sesuatu yang menarik: buah yang tidak selalu mudah ditemukan dalam keseharian, tetapi dapat kembali menarik perhatian ketika seseorang membagikan pengalaman memetiknya melalui layar ponsel.

Dari pohon di perbukitan ke layar ponsel

Di sejumlah wilayah Sumenep, keberadaan pohon dhuwa’ tidak selalu mudah dijumpai. Berdasarkan gambaran masyarakat setempat, pohon ini masih ditemukan di lokasi tertentu, termasuk kawasan perbukitan dan area yang tidak banyak dijamah aktivitas permukiman.

Meski demikian, keberadaan pohon belum tentu membuat buahnya tersedia setiap saat. Waktu berbuah yang tidak selalu bertepatan, kondisi tumbuh, serta lokasi pohon dapat memengaruhi kesempatan masyarakat untuk menikmati buah tersebut.

Situasi ini membuat aktivitas memetik dhuwa’ memiliki daya tarik tersendiri. Tidak seperti buah yang dapat dibeli kapan saja di toko, untuk menikmati buah ini seseorang terkadang harus mengetahui lokasi pohonnya dan menunggu saat yang tepat.

Ketika kegiatan tersebut disiarkan secara langsung, pengalaman yang sebelumnya terbatas pada orang-orang di sekitar lokasi dapat disaksikan oleh pengguna media sosial lainnya.

Bagi penonton, siaran itu bukan hanya memperlihatkan proses memetik buah. Ada pula rasa penasaran terhadap nama lokal, bentuk pohon, cara menikmati buah, hingga pertanyaan sederhana: apakah buah yang dahulu dikenal masih bisa ditemukan sekarang?

Baca Juga:  Bangunan Liar di Trunojoyo Gang 9 Pamekasan Dibongkar Pemilik, Trotoar Kembali Normal

Media sosial, dalam konteks ini, menjadi ruang pertemuan antara pengalaman lokal dan rasa ingin tahu masyarakat yang lebih luas.

Bukan buah baru, tetapi tak selalu hadir di pasaran

Jamblang (Syzygium cumini) merupakan tumbuhan dari famili Myrtaceae yang memiliki persebaran alami di kawasan Asia tropis dan subtropis, termasuk Jawa. Informasi taksonomi dari Royal Botanic Gardens, Kew, mencatat jamblang sebagai spesies tumbuhan yang diakui secara ilmiah.

Buahnya dikenal dengan warna merah keunguan hingga ungu gelap ketika matang. Rasanya dapat memadukan manis dan sepat, sementara bentuk serta ukurannya membuat buah ini mudah dikenali oleh orang yang pernah menjumpainya.

Meski memiliki sejarah pemanfaatan sebagai buah konsumsi, jamblang tidak selalu hadir dalam rantai perdagangan buah modern. Sifatnya yang musiman dan ketersediaannya yang bergantung pada lokasi tumbuh dapat membuat konsumen lebih sulit menjumpainya dibandingkan buah yang diproduksi dan dipasarkan secara rutin.

Namun, belum tersedia data yang cukup untuk menyimpulkan bahwa populasi pohon jamblang di Madura sedang menurun atau bahwa buah ini terancam punah. Kesulitan menemukan buah di pasar juga tidak serta-merta membuktikan bahwa pohonnya semakin langka di alam.

Untuk mengetahui kondisi sebenarnya di Madura, diperlukan pendataan pohon, pengamatan musim berbuah, serta keterangan dari warga yang masih mengenal dan memanfaatkannya.

Ada potensi antioksidan, tetapi bukan obat segala penyakit

Selain dikenal sebagai buah lokal, jamblang juga menarik perhatian peneliti karena kandungan senyawa alaminya.

Sebuah kajian ilmiah yang diterbitkan dalam Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi pada 2023 merangkum penelitian mengenai kandungan fitokimia, aktivitas antioksidan, dan toksisitas jamblang. Kajian tersebut menemukan bahwa berbagai bagian tanaman jamblang telah diteliti karena mengandung senyawa seperti antosianin, fenol, polifenol, flavonoid, dan tanin.

Senyawa antosianin, yang berkaitan dengan warna merah hingga ungu pada sejumlah buah, serta senyawa polifenol menjadi bagian dari penelitian mengenai aktivitas antioksidan jamblang.

Meski demikian, temuan aktivitas antioksidan dalam penelitian laboratorium tidak otomatis membuktikan bahwa mengonsumsi buah jamblang dapat mencegah atau menyembuhkan penyakit tertentu pada manusia.

Baca Juga:  Tiga Tahun Konsisten, Yayasan Darussalam Pertahankan Program Makan Sehat Mandiri

Begitu pula dengan klaim bahwa biji jamblang dapat mengendalikan diabetes. Penggunaannya dalam pengobatan tradisional memang telah menjadi bahan penelitian, tetapi bukti tersebut tidak dapat dijadikan alasan untuk menggantikan obat atau anjuran tenaga kesehatan.

Kementerian Kesehatan RI sendiri menekankan pentingnya konsumsi buah dan sayur sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang karena menyediakan vitamin, mineral, dan serat yang dibutuhkan tubuh.

Dengan demikian, jamblang dapat dipandang sebagai salah satu pilihan buah lokal yang layak dikenal dan diteliti lebih lanjut, bukan sebagai obat yang manfaat klinisnya sudah dipastikan.

Ketika perhatian digital menjadi peluang menjaga buah lokal

Ramainya siaran langsung memetik dhuwa’ membuka pertanyaan yang lebih luas daripada sekadar seberapa banyak orang menonton atau ingin mencicipinya.

Apakah perhatian yang muncul di media sosial dapat mendorong masyarakat kembali mengenali buah lokal di lingkungannya? Dapatkah pengalaman memetik buah yang dibagikan secara daring menjadi pintu masuk untuk mendokumentasikan nama lokal, lokasi tumbuh, musim berbuah, dan pengetahuan masyarakat tentang tanaman tersebut?

Pertanyaan itu relevan bagi Madura, tempat pengetahuan mengenai tumbuhan lokal dapat tersimpan dalam pengalaman keluarga dan kebiasaan masyarakat, tanpa selalu terdokumentasi secara tertulis.

Pengenalan kembali buah dhuwa’ dapat dimulai dari langkah sederhana: mendata pohon yang masih tumbuh, mencatat waktu berbuah, mengenalkan nama lokal kepada generasi muda, dan menjaga pohon yang ada agar tetap tumbuh.

Jika minat masyarakat terhadap buah ini meningkat, perhatian juga perlu diarahkan pada cara pemanfaatannya. Memetik buah secukupnya dan menjaga kondisi pohon akan lebih bermanfaat dalam jangka panjang daripada sekadar mengejar konten.

Pada akhirnya, dhuwa’ bukan hanya buah kecil berwarna gelap yang sesekali muncul di layar TikTok. Ia juga menjadi pengingat bahwa kekayaan hayati lokal tidak selalu berada di tempat yang jauh atau dalam bentuk yang spektakuler.

Kadang-kadang, sesuatu yang layak dikenal kembali justru tumbuh di antara pepohonan yang selama ini luput dari perhatian. (Ainul/Mel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *