KARIMATA MEDIA, PAMEKASAN – Pencegahan stunting pada anak perlu dilakukan sejak dini, terutama dengan memastikan kecukupan nutrisi selama 1.000 hari pertama kehidupan.
Selain memengaruhi pertumbuhan fisik, stunting juga berisiko menghambat perkembangan otak dan kemampuan kognitif anak.
Dokter Umum Puskesmas Pademawu, dr. Akhmad Kusairi, mengatakan stunting tidak hanya dapat dilihat dari perawakan anak yang pendek, tetapi juga perlu diperhatikan dari aspek perkembangan otaknya.
Menurutnya, stunting terjadi akibat kekurangan nutrisi dalam jangka panjang sehingga pertumbuhan tinggi badan dan perkembangan anak tidak optimal sesuai usianya.
“Dampak yang perlu dikhawatirkan adalah gangguan kognitif atau perkembangan kemampuan anak. Karena itu, pemenuhan nutrisi harus diperhatikan sejak awal kehidupan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, salah satu upaya pencegahan stunting adalah memberikan makanan bergizi dengan memperhatikan kualitas, bukan hanya kuantitas. Sumber protein hewani, seperti telur dan daging, serta sumber protein nabati seperti kacang-kacangan, perlu menjadi bagian dari pola makan anak.
Selain faktor nutrisi, stunting juga dapat dipengaruhi faktor genetik dan kondisi kesehatan tertentu, termasuk penyakit kronis yang mengganggu penyerapan nutrisi serta penyakit tuberkulosis (TB).
dr. Akhmad menambahkan, pemerintah telah melakukan kolaborasi dengan berbagai instansi, termasuk Kementerian Agama melalui Kantor Urusan Agama (KUA), sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting, khususnya melalui edukasi kesehatan dan persiapan calon pengantin.
Ia berharap tokoh masyarakat turut berperan aktif dalam meningkatkan kesadaran keluarga mengenai pentingnya pemenuhan gizi dan pemantauan tumbuh kembang anak.
Sementara itu, Penanggung Jawab Program Gizi Puskesmas Sopaah, Fitriyani Isfaputriyanti, S.Gz., mengatakan data stunting saat ini masih naik turun. Untuk mengetahui kondisi pertumbuhan anak, petugas melakukan pengukuran tinggi badan dan penimbangan berat badan melalui posyandu, kemudian membandingkannya dengan standar pertumbuhan sesuai usia.
Jika ditemukan indikasi pertumbuhan yang tidak sesuai, petugas akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk turun langsung ke lapangan untuk memastikan kondisi balita. Puskesmas juga memberikan pengarahan kepada kader posyandu mengenai teknik pengukuran tinggi badan dan penimbangan yang benar agar hasilnya akurat.
“Kalau ditemukan balita yang mengalami masalah pertumbuhan, kami arahkan untuk berkonsultasi dengan dokter di puskesmas agar mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut,” jelasnya.
Fitriyani menuturkan, edukasi pencegahan stunting tidak hanya dilakukan melalui posyandu, tetapi juga menyasar anak sekolah, remaja putri, hingga calon pengantin. Remaja putri didorong untuk mencegah anemia, salah satunya melalui konsumsi tablet tambah darah sesuai anjuran. Sementara itu, calon pengantin perlu mempersiapkan kondisi kesehatan dan status gizi sebelum memasuki kehidupan berkeluarga.
Menurutnya, pencegahan stunting juga membutuhkan peran aktif keluarga dalam menyediakan makanan bergizi seimbang, menerapkan pola asuh yang baik, serta rutin memantau pertumbuhan anak melalui posyandu.
Ia berharap masyarakat semakin memahami pentingnya pemenuhan gizi sejak dini sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak dapat berlangsung optimal. (Mel/Ns)
Karimata Media Dinamika Madura