KARIMATAMEDIA, PAMEKASAN – Khoirul Anwar Syarifuddin*, mahasiswa Pascasarjana Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) UIN Madura, menyelesaikan pendidikan magister (S2) tanpa tesis melalui jalur publikasi artikel ilmiah yang terbit pada jurnal terindeks Sinta 2.
Artikel tersebut mengangkat tema yang cukup unik, yakni hubungan antara takdir dan ikhtiar dalam perspektif Al-Qur’an dengan budaya populer. Tulisan berjudul “Negotiating Destiny and Human Agency in Islamic Popular Culture: A Hermeneutic Reading of Negeri 5 Menara” tersebut membedah pesan-pesan yang tersirat dalam film Negeri 5 Menara dengan menggunakan pendekatan hermeneutika Hans-Georg Gadamer dan pemikiran Fazlur Rahman.
Melalui penelitian tersebut, Ia berupaya mempertemukan kajian Al-Qur’an dengan media populer yang dekat dengan kehidupan masyarakat, khususnya generasi muda. Film tidak hanya ditempatkan sebagai tontonan, tetapi juga sebagai media yang dapat dibaca untuk menemukan nilai-nilai tentang kehidupan, usaha manusia, cita-cita, dan hubungan antara ikhtiar dengan takdir.
Penggunaan teori Gadamer membantu penelitian tersebut membaca makna melalui hubungan antara teks, konteks, dan pembaca. Sementara itu, pemikiran Fazlur Rahman digunakan untuk menggali pesan moral Al-Qur’an agar dapat dipahami dalam konteks kehidupan manusia.
“Yang menarik bagi saya adalah bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an dapat terus dibaca melalui berbagai bentuk budaya populer. Al-Qur’an tidak hanya dikaji melalui kitab tafsir, tetapi juga dapat didialogkan dengan realitas kehidupan dan media yang dekat dengan masyarakat,” demikian gagasan utama yang menjadi latar belakang penelitian tersebut.
Pilihan tema tersebut juga menunjukkan ketertarikan Khoirul dalam mengembangkan kajian Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir agar tidak berhenti pada pembahasan teks, tetapi mampu berdialog dengan fenomena sosial dan budaya kontemporer.
Selain aktif dalam penelitian akademik, Ia juga mengembangkan gagasannya melalui sejumlah karya buku. Beberapa karya yang telah dan sedang dikembangkannya antara lain The Miracle of Ibadah, Wahyu × Nalar, Al-Qur’an Never Gets Old, Dari Mufassir ke Tafsir, Pengantar Ilmu Al-Qur’an, Wahyu di Tanah Garam, serta Kehidupan dalam Perspektif Al-Qur’an dan Biologi Modern.
Karya-karya tersebut memperlihatkan luasnya tema yang menjadi perhatiannya, mulai dari ibadah, ilmu Al-Qur’an dan tafsir, hubungan wahyu dengan nalar, hingga dialog antara Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan dan kehidupan masyarakat.
Salah satu gagasan yang dikembangkannya melalui buku Wahyu di Tanah Garam adalah bagaimana Al-Qur’an dapat dibaca dalam konteks kehidupan masyarakat Madura. Buku tersebut mengangkat hubungan antara Al-Qur’an, agama, budaya, dan tradisi masyarakat Madura.
Menurutnya, kajian Al-Qur’an memiliki ruang yang luas untuk terus dikembangkan. Al-Qur’an dapat dikaji melalui berbagai pendekatan, selama tetap memperhatikan landasan keilmuan dan konteks yang menjadi objek kajian.
Perjalanan akademik dan kepenulisannya memperlihatkan upaya untuk menghadirkan kajian Al-Qur’an dalam bahasa yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Film, budaya lokal, ilmu pengetahuan, hingga persoalan kehidupan sehari-hari menjadi ruang yang dapat didialogkan dengan nilai-nilai Al-Qur’an.
Baginya, kajian Al-Qur’an bukan hanya tentang memahami teks, tetapi juga bagaimana pesan wahyu dapat terus dipahami dan diaktualisasikan dalam menghadapi perubahan zaman.
Melalui publikasi ilmiah dan karya-karya bukunya, Ia terus mengembangkan gagasan bahwa Al-Qur’an memiliki ruang dialog yang luas dengan berbagai bidang kehidupan, tanpa kehilangan akar keilmuan tafsir dan studi Al-Qur’an.
*Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) UIN Madura. (Khoirul/Faz)
Karimata Media Dinamika Madura