AGAMA MEMPERMUDAH DAN BUDAYA MEMPERSULIT
Oleh: Riky Arista, S.Sos., M.Sos*
Pernikahan dalam ajaran agama pada dasarnya merupakan ibadah yang dimaksudkan untuk memudahkan manusia dalam membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Berbagai ajaran agama menekankan kesederhanaan, kemampuan, serta menghindari tindakan yang memberatkan diri sendiri. Namun dalam praktik sosial di banyak daerah pedesaan, pernikahan sering kali tidak hanya dipandang sebagai urusan ibadah, melainkan juga menjadi arena pertaruhan status sosial, gengsi keluarga, dan pengakuan masyarakat.
Fenomena ini terlihat dari banyaknya keluarga yang rela berutang demi menyelenggarakan hajatan yang dianggap layak menurut standar lingkungan sekitar. Tidak sedikit masyarakat yang menghabiskan tabungan, menjual aset, bahkan mengambil pinjaman hanya untuk memenuhi ekspektasi sosial. Dalam konteks ini, keputusan ekonomi sering kali tidak lagi didasarkan pada kemampuan finansial, melainkan pada kekhawatiran terhadap penilaian orang lain.
Secara sosiologis, kondisi tersebut dapat dijelaskan melalui konsep social pressure atau tekanan sosial. Individu cenderung menyesuaikan perilakunya dengan norma yang berlaku dalam kelompoknya agar memperoleh penerimaan sosial. Di banyak desa, ukuran keberhasilan sebuah pesta pernikahan sering kali dinilai dari besarnya acara, jumlah tamu, kemewahan dekorasi, hingga banyaknya hidangan yang disajikan. Akibatnya, keluarga merasa harus memenuhi standar tersebut meskipun kondisi ekonominya tidak mendukung.
Budaya menjaga gengsi dan harga diri juga memiliki pengaruh yang kuat. Bagi sebagian masyarakat, hajatan bukan sekadar perayaan, tetapi simbol kehormatan keluarga. Ketika pesta dianggap sederhana, muncul kekhawatiran akan menjadi bahan perbincangan tetangga atau dianggap tidak mampu secara ekonomi. Ironisnya, rasa malu terhadap komentar masyarakat sering kali lebih besar dibandingkan kekhawatiran terhadap beban utang yang harus ditanggung setelah acara selesai.
Di sinilah terlihat adanya perbedaan antara nilai agama dan tuntutan budaya. Agama mengajarkan kemudahan, keseimbangan, dan tanggung jawab dalam mengelola kehidupan, sedangkan budaya tertentu terkadang membangun standar sosial yang justru memberatkan. Ketika budaya lebih dominan daripada nilai agama, pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan keluarga justru menjadi awal persoalan ekonomi yang panjang.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak pasangan pengantin baru harus memulai kehidupan rumah tangga dengan kondisi keuangan yang tidak sehat. Sebagian masih dibebani cicilan hajatan, sebagian lainnya kehilangan tabungan dan tidak memiliki dana cadangan untuk kebutuhan setelah menikah. Kondisi ini berpotensi memicu tekanan ekonomi yang pada akhirnya dapat memengaruhi kualitas kehidupan keluarga.
Oleh karena itu, perlu adanya perubahan cara pandang masyarakat terhadap makna sebuah hajatan. Kehormatan keluarga seharusnya tidak diukur dari kemewahan acara, melainkan dari kemampuan menjalankan kehidupan rumah tangga secara bertanggung jawab. Masyarakat juga perlu membangun budaya baru yang lebih menghargai kesederhanaan dan kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. Sebab pada hakikatnya, agama telah memberikan jalan yang mudah, tetapi sering kali manusialah yang menambah berbagai beban melalui konstruksi budaya yang dibuatnya sendiri.
Ketika agama mengajarkan kesederhanaan namun budaya menuntut kemewahan, maka yang terjadi adalah pergeseran tujuan pernikahan dari ibadah menjadi ajang pembuktian sosial. Padahal, kebahagiaan rumah tangga tidak ditentukan oleh megahnya pesta yang berlangsung satu hari, melainkan oleh kemampuan pasangan menjalani kehidupan yang panjang setelah pesta itu berakhir.
*Mahasiswa S2 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Karimata Media Dinamika Madura