KARIMATAMEDIA, PAMEKASAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pamekasan mengajak masyarakat memanfaatkan kearifan lokal sebagai salah satu upaya menjaga kesehatan, mulai dari penggunaan taman obat keluarga (TOGA), akupresur, konsumsi makanan bergizi, hingga membangun kebiasaan gotong royong dalam menjaga kesehatan keluarga.
Novitri Susan F, S.KM., MM., Koordinator Seksi Pelayanan Kesehatan Tradisional, mengatakan, masyarakat Pamekasan memiliki kekayaan tanaman lokal, tradisi gotong royong, serta pengetahuan kesehatan yang diwariskan secara turun-temurun. Potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi kebiasaan hidup sehat selama dilakukan dengan benar dan aman.
“TOGA atau taman obat keluarga merupakan salah satu bentuk pemanfaatan potensi lingkungan untuk mendukung pemeliharaan kesehatan masyarakat,’’ katanya.
Namun, penggunaan tanaman obat maupun jamu tetap harus memperhatikan jenis bahan, dosis, dan aturan pakai. Masyarakat diimbau tidak mengonsumsi jamu secara sembarangan karena bahan alami juga dapat menimbulkan efek samping jika digunakan secara tidak tepat.
Novitri juga mengingatkan masyarakat yang memiliki gangguan lambung, seperti maag, agar memperhatikan kondisi tubuh sebelum mengonsumsi jamu. Selain itu, konsumsi jamu bersamaan dengan obat medis perlu memperhatikan jeda waktu dan potensi interaksi sesuai jenis produk yang digunakan.
“Pelayanan kesehatan tradisional di Dinkes Pamekasan telah berjalan sejak 2017. Kegiatannya meliputi pemanfaatan TOGA, akupresur, serta perizinan bagi penyehat tradisional atau HATRA,’’ tambahnya.
Terkait terapi bekam, Novitri menjelaskan bahwa bekam kering menjadi salah satu metode yang diperbolehkan. Kemenkes tidak mengijinkan bekam basah karena tidak tahu sterilitas alat tersebut aman apa tidak. Bekam basah perlu memperhatikan ketentuan dan standar keselamatan yang berlaku karena melibatkan darah dan berisiko menularkan penyakit, seperti HIV dan hepatitis.
Sementara itu, Yenny Discowati, SST., MM., Staf Seksi Pelayanan Kesehatan Tradisional, mengatakan masyarakat sejak dahulu telah memanfaatkan tanaman seperti jahe, kunyit, kencur, dan temulawak untuk berbagai kebutuhan sehari-hari.
Menurutnya, warisan tersebut perlu dilestarikan dengan memadukan kearifan lokal dan pengetahuan kesehatan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kesehatan tradisional dapat menjadi bagian dari upaya promotif dan preventif untuk mendukung pola hidup sehat. Meski demikian, pengobatan medis tetap diperlukan sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing individu.
Yenny juga mengingatkan bahwa konsumsi jamu dapat memberikan manfaat maupun menimbulkan risiko terhadap kesehatan ginjal, bergantung pada kualitas bahan, dosis, lama konsumsi, serta kondisi kesehatan seseorang.
Jamu berbahan rimpang, seperti kunyit, temulawak, dan jahe, mengandung senyawa aktif dengan sifat antioksidan. Namun, manfaat tersebut tidak berarti semua produk jamu aman dikonsumsi tanpa batas. Masyarakat perlu memilih produk yang terjamin kualitasnya dan mengikuti aturan penggunaan.
Melalui pemanfaatan kearifan lokal yang disertai pemahaman kesehatan yang benar, masyarakat diharapkan dapat menjaga kesehatan secara lebih mandiri, aman, dan berkelanjutan. (Mel/Sol)
Karimata Media Dinamika Madura