KARIMATAMEDIA, Mojokerto – Semangat nasionalisme tidak selalu tumbuh di ruang kelas. Hal itu dibuktikan salah satu siswa UPTD SDN Pangarengan 2, Kecamatan Pangarengan, Kabupaten Sampang, Ali Fajar Romadhon, yang akrab disapa Afro, dengan melakukan pendakian Gunung Penanggungan untuk mengikuti upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026.
Ali Fajar memilih jalur pendakian menuju Gunung Penanggungan dengan ketinggian sekitar 1.653 meter di atas permukaan laut (MDPL). Perjalanan tersebut bukan sekadar aktivitas mendaki, tetapi menjadi pengalaman untuk menanamkan nilai nasionalisme, keberanian, kemandirian, serta ketangguhan sejak usia sekolah.
Kepala UPTD SDN Pangarengan 2, Zainul Ghaffar, menyampaikan apresiasi atas semangat dan keberanian siswanya. Menurutnya, kegiatan seperti ini dapat menjadi pengalaman pendidikan di luar kelas yang mampu membentuk karakter anak, selama dilakukan dengan persiapan, pendampingan, serta memperhatikan keselamatan.
“Pendakian ini bukan hanya tentang mencapai puncak. Ada proses belajar di dalamnya. Anak belajar disiplin, mandiri, bekerja sama, menghadapi kesulitan dan memahami bahwa setiap perjuangan membutuhkan ketekunan,” ujar Zainul Ghaffar.
Menurutnya, mengikuti upacara kemerdekaan di puncak gunung juga menjadi momentum untuk membangun jiwa nasionalisme. Dari ketinggian, siswa dapat merasakan suasana berbeda dalam memperingati kemerdekaan sekaligus menghayati perjuangan para pahlawan yang telah mengorbankan tenaga, pikiran, bahkan nyawa demi Indonesia.
Pendakian tersebut juga menjadi sarana melatih ketangguhan mental. Medan yang sulit mengajarkan bahwa perjalanan menuju sebuah tujuan tidak selalu mudah. Setiap langkah membutuhkan keberanian, kesabaran dan kemauan untuk terus bergerak ketika menghadapi kelelahan maupun tantangan.
Selain itu, kegiatan tersebut diharapkan mampu memupuk kemandirian anak. Selama perjalanan, Ali Fajar belajar mempersiapkan perlengkapan dan kebutuhan pribadi serta memahami pentingnya bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar.
Nilai gotong royong juga menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju puncak. Pendaki tidak berjalan sendiri, tetapi saling membantu, menjaga dan menguatkan. Semangat tersebut menjadi gambaran sederhana tentang pentingnya persatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sementara itu, Ali Fajar Romadhon (Afro) mengatakan bahwa pendakian menuju puncak Gunung Penanggungan menjadi pengalaman yang sangat berarti baginya. Dengan izin dan doa dari sang mama, ia memilih menghadapi tantangan tersebut sebagai bagian dari proses menempa dirinya.
“Atas izin dan doa Mama, saya berangkat. Takdir saya lawan. Nilai imbang pun saya tidak terima. Saya ingin terus berjuang sampai mencapai puncak,” tegas Ali Fajar.
Baginya, lelah selama perjalanan merupakan bagian kecil dari pelajaran besar tentang kemerdekaan. Setiap langkah menuju puncak menjadi pengingat bahwa kemerdekaan yang dinikmati generasi sekarang lahir dari perjuangan panjang para pahlawan.
Upacara 17 Agustus 2026 di ketinggian Gunung Penanggungan akhirnya bukan hanya menjadi perayaan kemerdekaan, tetapi juga perjalanan pembentukan karakter. Dari kaki gunung menuju puncak, Ali Fajar membawa semangat seorang pelajar: berani bermimpi, kuat menghadapi tantangan, mandiri dalam perjalanan, dan tidak mudah menyerah untuk mencapai tujuan. (Ag/Sol)
Karimata Media Dinamika Madura