Hari Santri 2026, Saatnya Santri Ambil Peran Mewujudkan Indonesia Emas

KARIMATAMEDIA, PAMEKASAN – Peringatan Hari Santri Nasional setiap 22 Oktober menjadi momentum untuk mengenang perjuangan para kiai, ulama, dan santri dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, sekaligus merefleksikan peran santri dalam membangun masa depan bangsa.

Kepala SMA Tahfidz Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan, Khofif, M.Pd., menyampaikan bahwa semangat perjuangan santri harus terus dilanjutkan sesuai tantangan zaman. Jika dahulu santri berjuang mempertahankan kemerdekaan, maka saat ini perjuangan diwujudkan melalui pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan, penguatan akhlak, dan pengabdian kepada masyarakat.

Menurutnya, santri tidak cukup hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga harus mampu mengamalkan ilmunya untuk memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan negara.

Baca Juga:  17 Desa di Pamekasan Tetapkan Status KLB Campak, Proppo Tertinggi dengan 40 Kasus

“Menjadi santri bukan hanya tentang bagaimana menguasai dan mendalami ilmu agama, tetapi juga bagaimana ilmu tersebut diamalkan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan negara,” ujarnya.

Ia menambahkan, perkembangan teknologi digital menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi santri saat ini. Karena itu, santri perlu memiliki kecakapan digital, kemampuan berpikir kritis, serta literasi informasi agar mampu memanfaatkan teknologi secara produktif dan tidak mudah terpengaruh hoaks maupun ujaran kebencian.

Di sisi lain, kemajuan teknologi harus tetap diimbangi dengan penguatan karakter, seperti kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kesantunan.

Baca Juga:  Terseret Arus Saat Banjir, Santri di Bangkalan Ditemukan Meninggal Dunia

Mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, Khofif menilai santri harus berperan aktif dalam pembangunan bangsa, tidak hanya melalui pendidikan dan dakwah, tetapi juga pengembangan ekonomi umat, penguasaan teknologi, serta upaya menjaga persatuan dan kerukunan masyarakat.

Ia berharap, peringatan Hari Santri tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, melainkan menjadi dorongan bagi santri untuk terus belajar, menjaga adab, mengembangkan potensi, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

“Harapan saya, santri tidak hanya menjadi kebanggaan pesantren, tetapi juga menjadi bagian penting dari solusi bagi masa depan Indonesia,” pungkasnya. (Sol/Ayg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *