KARIMATAMEDIA, KALIMANTAN TENGAH – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyebabkan Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, diselimuti asap selama kurang lebih dua bulan. Kondisi tersebut berdampak pada kualitas udara yang dilaporkan masuk kategori berbahaya.
Nur Khalid, mantan kru Radio Karimata yang kini berada di Kotawaringin Barat Kalimantan Tengah, mengatakan asap tebal masih menyelimuti wilayah tersebut. Pemerintah setempat mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
“Kurang lebih dua bulan terakhir ini, Pangkalan Bun dikepung asap. Kualitas udara di Pangkalan Bun termasuk kategori berbahaya, sama dengan di Kota Palangka Raya,” ungkapnya saat on air melalui sambungan telpon Radio Karimata pada Rabu (14/10/2026) pagi.
Dampak karhutla juga dirasakan sektor pendidikan. Kegiatan belajar mengajar bagi siswa mulai dari tingkat PAUD hingga SLTA dialihkan ke pembelajaran jarak jauh (PJJ). Menurut Nur Khalid, kebijakan tersebut telah berlangsung sekitar dua pekan dan masih diperpanjang hingga kondisi membaik.
Sementara itu, petugas pemadam kebakaran terus berupaya memadamkan api. Namun, luasnya area kebakaran dan keterbatasan fasilitas pendukung menjadi tantangan dalam penanganan karhutla.
Nur Khalid menjelaskan, kebakaran terjadi di kawasan hutan dan lahan gambut, termasuk di sekitar habitat orang utan di Taman Nasional Tanjung Puting. Akses menuju lokasi yang sulit dijangkau karena melalui jalur sungai turut menyulitkan proses pemadaman.
Ia menilai karhutla kali ini menjadi yang terparah di wilayah Kotawaringin Barat dibandingkan kejadian yang diingatnya pada 2019. Kondisi tersebut terjadi setelah wilayah itu mengalami musim kemarau panjang selama sekitar tiga hingga empat bulan.
Di sisi lain, Anggota Komisi III DPRD Kota Palangka Raya, Arif Norkim, berharap Menteri Kehutanan turun langsung meninjau kondisi karhutla di seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan.
“Kami mengharapkan Menteri Kehutanan benar-benar berkeliling ke seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah agar bisa melihat langsung kondisi karhutla di lapangan,” ujar Arif.
Ia berharap hasil peninjauan tersebut dapat dilaporkan kepada Presiden untuk menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan langkah penanganan karhutla.
Meski aktivitas karyawan masih berjalan seperti biasa dengan imbauan menggunakan masker, Nur Khalid berharap pemerintah pusat dan daerah mengambil langkah konkret untuk menangani kebakaran yang berlangsung cukup lama tersebut.
Ia juga berharap penanganan karhutla mendapat perhatian serius karena dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat, tetapi juga satwa liar yang hidup di kawasan hutan.
Sebagai informasi pelengkap, data luas lahan yang terbakar dalam perbincangan tersebut masih perlu dikonfirmasi kepada instansi terkait. Nur Khalid menegaskan bahwa informasi yang disampaikannya berdasarkan pemantauannya, bukan data resmi pemerintah. (Ag/Hen)
Karimata Media Dinamika Madura