KARIMATA.NET, SUMENEP – Cuaca dingin yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Madura, dalam beberapa waktu terakhir bukan disebabkan oleh fenomena aphelion seperti yang banyak diduga masyarakat.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Trunojoyo Sumenep, Ari Widjajanto saat on air di Radio Karimata menyebut, suhu dingin ini lebih dipengaruhi oleh musim kemarau dan masuknya udara kering yang berasal dari Benua Australia, yang saat ini sedang mengalami musim dingin.
“Sekarang ini kita sedang berada di musim kemarau. Nah, musim dingin di Australia itu membawa udara kering ke wilayah Indonesia, termasuk Madura. Itu yang menyebabkan suhu di malam hari terasa lebih dingin,” jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa meski posisi bumi saat ini sedang berada pada titik terjauh dari matahari karena bentuk orbit yang elips, bukan itu penyebab utama suhu dingin.
“Gerak semu matahari yang zigzag itu memang membuat posisi kita saat ini jauh dari matahari. Tapi bukan itu yang bikin kita dingin. Justru karena angin monsun dari Australia yang membawa udara kering, ditambah langit cerah tanpa awan, maka panas dari bumi cepat menghilang di malam hari. Itulah yang bikin bediding,” terangnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa kondisi ini masih tergolong normal dalam dinamika musim kemarau di wilayah Indonesia. Namun, suhu dingin tahun ini tidak sedingin kemarau tahun-tahun sebelumnya karena suhu muka laut di sekitar Indonesia dan Pasifik masih cukup hangat.
“Tahun ini kita masih mengalami yang disebut ‘kemarau basah’. Artinya, meskipun kita di musim kemarau, tapi awan-awan masih terbentuk karena pasokan uap air dari suhu laut yang hangat. Jadi bediding-nya tidak seekstrim tahun lalu,” paparnya.
Ia juga menyebutkan bahwa kondisi ini akan mulai berubah pada bulan September mendatang, saat posisi matahari mulai kembali mendekati belahan bumi selatan.
“Insya Allah, bulan September nanti matahari mulai mendekat ke kita lagi. Udara akan mulai hangat, dan biasanya hujan juga mulai turun. Oktober nanti sudah gak terasa dingin lagi,” imbuhnya.
Dengan demikian, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak perlu khawatir berlebihan atas fenomena ini. Cuaca dingin yang terjadi masih dalam kategori wajar dan bukan pertanda akan adanya gangguan iklim ekstrim. (Ziyad/Bb)