KARIMATAMEDIA, PAMEKASAN— Menjelang datangnya Bulan Suci Ramadhan, masyarakat di berbagai daerah Jawa Timur masih menjaga tradisi turun-temurun sebagai bentuk persiapan spiritual. Di Madura hingga Surabaya, tradisi menyambut Ramadhan dilakukan dengan cara yang beragam, namun memiliki makna yang sama, doa, kebersamaan, dan penghormatan kepada leluhur.
Di Pamekasan, salah satu tradisi yang umum dilakukan masyarakat adalah ziarah kubur. Pendengar Karimata Media, Mariya, mengatakan ziarah kubur rutin dilakukan setiap tahun sebelum Ramadhan sebagai bentuk doa kepada keluarga yang telah meninggal dunia.
“Setiap menjelang Ramadhan, kami selalu ziarah kubur. Itu sudah menjadi kebiasaan keluarga sejak dulu,” ujarnya via seluler.
Tradisi serupa juga dilakukan warga Kecamatan Kangenan. Sunarku, warga setempat, menyebut ziarah kubur biasanya dibarengi dengan kegiatan berbagi makanan kepada guru ngaji maupun masjid di lingkungan sekitar.
“Selain ziarah, biasanya kami juga berbagi makanan ke guru mengaji atau ke masjid,” kata Sunarku via Whatsap.
Sementara itu, di Surabaya, tradisi menyambut Ramadhan dikenal dengan sebutan Megengan. Pendengar Karimata Media asal Surabaya, Agus Riyanto, menjelaskan Megengan dilakukan secara kolektif oleh warga dalam satu lingkungan dan berpusat di masjid.
“Di Surabaya memang ada tradisi Megengan. Hampir sama dengan Madura, tapi dilakukan bersama-sama di masjid,” ujar Agus saat on air di Karimata.
Menurutnya, rangkaian Megengan biasanya dimulai sejak pagi hari dengan khataman Al-Qur’an yang dilanjutkan dengan doa bersama untuk para leluhur. Pada malam hari, kegiatan diisi dengan tausiyah dan selamatan.
“Pagi khataman Al-Qur’an, kirim doa untuk almarhum dan almarhumah. Malamnya setelah Isya ada tausiyah, lalu selamatan dengan nasi kotak,” jelasnya.
Agus menambahkan, Megengan di lingkungannya dijadwalkan berlangsung pada Ahad, 15 Februari 2026, atau sekitar tiga hari sebelum awal puasa. Ia menyebut tradisi tersebut umumnya dijalankan oleh warga Nahdlatul Ulama (NU) dan menjadi agenda rutin tahunan. “Kalau Megengan ini biasanya kolektif dan rutin setiap tahun, terutama di masjid NU,” katanya.
Meski memiliki nama dan bentuk yang berbeda, tradisi-tradisi tersebut mencerminkan semangat masyarakat Jawa Timur dalam menyambut Ramadhan dengan doa, kebersamaan, dan nilai-nilai keagamaan yang terus dijaga lintas generasi. (Fauzi/ayg)
Karimata Media Dinamika Madura