Hari Ulang Tahun PDI Perjuangan, Neng Diyah Akhiri Kiprah di Kepengurusan DPC Pamekasan

KARIMATAMEDIA, PAMEKASAN — Ketua Dewan Pertimbangan DPC PDI Perjuangan Pamekasan periode 2019–2024, Ny. Hj. Aisyatul As’adiyah (Neng Diyah), resmi mengundurkan diri dari kepengurusan sekaligus keanggotaan partai bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun PDI Perjuangan.

Pengunduran diri tersebut disampaikan secara tertulis melalui surat resmi yang diserahkan ke Kantor DPC PDI Perjuangan Pamekasan pada Sabtu (10/01/2026). Surat pengunduran diri Neng Diyah diantarkan oleh Zainol Fanani dan diterima langsung oleh Kardi, selaku Kepala Kantor DPC PDI Perjuangan Pamekasan.

Dalam surat pengunduran dirinya, Neng Diyah menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh Ketua dan jajaran DPC PDI Perjuangan Pamekasan atas kebersamaan dan proses politik yang telah dijalani. Ia juga mendoakan agar partai berlambang banteng tersebut semakin jaya ke depan.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada para Ketua DPC PDI Perjuangan Pamekasan. Semoga semakin jaya ke depannya,” terangnya.

Selain menyampaikan terima kasih, Neng Diyah juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama berada di PDI Perjuangan terdapat kebijakan maupun keputusan politik yang dinilai tidak sejalan dengan pemikiran internal partai.

Ia menegaskan bahwa setiap kebijakan yang diambil selama menjabat didasarkan pada pertimbangan yang matang, meskipun perbedaan pandangan dalam dinamika politik merupakan hal yang tidak dapat dihindari.

Baca Juga:  Jadwal Terlalu Padat, Madura United Ajukan Laga Tunda

Dalam wawancara on air di Radio Karimata, Minggu (11/01/2026) pagi, Neng Diyah mengungkapkan bahwa keputusan untuk mengundurkan diri sejatinya telah diambil sejak Oktober 2025. Namun, penyampaian surat resmi baru dilakukan pada Januari 2026 karena menyesuaikan dengan mekanisme dan prosedur internal partai.

“Periode kepengurusan saya itu dari 2019 sampai 2024. Karena konferensi baru dilaksanakan belakangan, maka saya mengikuti prosedur yang ada. Komunikasi pengunduran diri ini sebenarnya sudah lama disampaikan, hanya belum dipublikasikan,” ujarnya.

Ia menambahkan, penyerahan surat pengunduran diri pada 10 Januari dilakukan sekaligus untuk menjaga etika politik dan silaturahmi dengan partai, terlebih bertepatan dengan peringatan hari ulang tahun PDI Perjuangan.

Neng Diyah mengungkapkan bahwa keterlibatannya di dunia politik bermula sejak 2018. Ia menyebut kehadirannya di politik sebagai sebuah “kecelakaan politik” karena awalnya bukan merupakan pilihan pribadi, melainkan atas dorongan almarhumah uminya.

Meski demikian, ia menegaskan tetap menjalankan amanah secara profesional selama berada di PDI Perjuangan. Salah satu capaian yang dicatat selama kiprahnya adalah meningkatnya perolehan kursi PDI Perjuangan di DPRD Pamekasan dari nol kursi menjadi dua kursi, termasuk di wilayah Dapil Madura Raya.

Baca Juga:  Dua Pemuda Lenteng Diciduk di Sumenep, Polisi Temukan Sabu di Bungkus Rokok

“Itu bukan proses yang mudah, mengingat kondisi dan karakter pemilih di Pamekasan,” ungkapnya.

Neng Diyah menyampaikan keinginannya untuk lebih memfokuskan perhatian pada peran lain yang selama ini juga dijalaninya. Dengan nama lengkap Nyai Hj. Aisyatul As’adiyah Shidqie, S.Sy., M.E., atau yang akrab disapa Ning Dyah, ia dikenal sebagai salah satu pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Huda di Sumber Nangka, Desa Duko Timur, Kecamatan Larangan, Pamekasan.

Selain sebagai pengasuh pesantren, ia juga aktif sebagai pimpinan lembaga dan pelaku usaha. Ia menilai komunikasi internal yang tidak lagi berjalan efektif menjadi salah satu pertimbangan utama dalam keputusannya untuk mengundurkan diri.

Meski telah mengundurkan diri dari PDI Perjuangan, Neng Diyah tidak menutup kemungkinan untuk tetap berada dalam ruang politik. Ia mengaku sejumlah komunikasi lintas partai telah terjalin, meski belum menentukan arah langkah politik selanjutnya.

Sebagai penutup, Neng Diyah berharap pengalamannya di dunia politik dapat menjadi motivasi bagi perempuan untuk berani berperan aktif dalam ruang publik, baik di bidang politik, pendidikan, maupun sosial. (Ainul/Suk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *