Ach Farhan Ukir Prestasi di STQH Nasional, Bupati: Bukti Santri Pamekasan Mampu Bersaing

KARIMATAMEDIA, PAMEKASAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Ach Farhan, santri Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar, yang berhasil meraih Juara II Cabang Hafalan Al-Qur’an Golongan 30 Juz dalam ajang Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadits (STQH) Nasional XXVIII Tahun 2025 di Provinsi Sulawesi Tenggara, pada 9–18 Oktober 2025.

Atas prestasi tersebut, Bupati Pamekasan KH. Kholilurrahman secara resmi memberikan penghargaan dan menyampaikan rasa bangganya kepada Farhan sebagai putra daerah yang telah mengharumkan nama Pamekasan di kancah nasional.

“Kami sangat bangga kepada Ach Farhan. Prestasinya menjadi bukti bahwa santri Pamekasan mampu bersaing di tingkat nasional. Ini menjadi inspirasi bagi seluruh santri dan pelajar untuk semakin mencintai dan menghafal Al-Qur’an,” ujar Bupati Kholilurrahman.

Bupati juga berharap capaian Farhan dapat menjadi motivasi baru bagi generasi muda Pamekasan. Menurutnya, menghafal Al-Qur’an tidak hanya membawa keberkahan spiritual, tetapi juga membuka jalan kemudahan dalam pendidikan dan karier.

Baca Juga:  Hujan Lebat Sebabkan Dapur Warga Pademawu Ambruk, Kerugian Capai Rp20 Juta

“Menghafal Al-Qur’an adalah investasi besar, baik dunia maupun akhirat. Banyak perguruan tinggi, bahkan institusi seperti TNI dan Polri, memberikan jalur khusus bagi para hafidz. Karena itu, kami dorong para pelajar untuk meneladani semangat Ach Farhan,” tambahnya.

Sementara, dalam perbincangan singkatnya, Ach Farhan, mahasiswa semester lima sekaligus santri tahfidz di Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar, menceritakan perjalanan panjangnya menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur’an.

“Yang paling berkesan adalah masa-masa perjuangan untuk menghafal. Kadang muncul rasa malas, ragu, bahkan sempat ingin berhenti. Tapi semua itu bagian dari ujian diri,” ungkap Farhan dengan senyum tenang.

Baca Juga:  Dua Dump Truck Tabrakan di Tlanakan, Satu Pengemudi Alami Patah Kaki

Farhan menegaskan bahwa proses menghafal tidak terjadi secara instan maupun karena pengalaman spiritual tertentu, melainkan murni hasil disiplin dan konsistensi.

“Tidak ada hal mistis dalam menghafal. Semua butuh usaha, doa, dan ketekunan. Di pondok, kami wajib menyetor hafalan setiap hari, minimal satu halaman,” jelasnya.

Butuh waktu empat tahun bagi Farhan untuk menuntaskan hafalan 30 juz secara sempurna. Setiap hari ia menjalani rutinitas mengulang, menyetor, dan memperbaiki bacaan di bawah bimbingan para ustaz tahfidz.

Kini, dengan prestasinya di ajang nasional, Farhan bertekad untuk terus menjaga hafalan dan berbagi semangat dengan para santri lain.

“Saya ingin terus menjaga hafalan ini, dan semoga bisa menginspirasi teman-teman agar tidak mudah menyerah dalam belajar Al-Qur’an,” tutupnya.(Ziyad/SL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *