KARIMATAMEDIA, SUMENEP – Memasuki pertengahan Februari 2026, tekanan harga bahan pokok mulai dirasakan warga Sumenep. Salah satu yang paling mencolok adalah cabai rawit. Dalam sepekan terakhir, komoditas pedas itu melonjak hingga Rp100.000 per kilogram di sejumlah pasar tradisional.
Kenaikan ini mencapai sekitar Rp20.000 dibanding pekan sebelumnya yang masih berada di kisaran Rp80.000 per kilogram. Padahal, dalam kondisi normal harga cabai rawit biasanya hanya berkisar antara Rp30.000 hingga Rp40.000 per kilogram.
Ibu Mohani, pembeli di Pasar Prenduan Sumenep, mengaku harus mengurangi jumlah belanja akibat lonjakan harga tersebut. Ia ditemui tim Karimata Media pada Rabu (11/02/2026) pagi.
“Tadi saya beli harganya sudah Rp100.000 per kilogram, Mas. Jadi kalau beli lima ribu itu dapatnya hanya beberapa biji,” ujarnya.
Ia menilai kenaikan ini terasa berat karena terjadi menjelang bulan suci Ramadan, saat kebutuhan dapur cenderung meningkat.
“Padahal beberapa minggu lalu itu masih Rp80 ribuan harganya, mungkin karena sudah hampir bulan suci Ramadan, Mas,” terangnya.
Sejumlah pembeli menduga lonjakan harga tidak hanya dipicu tingginya permintaan menjelang Ramadan, tetapi juga karena faktor produksi. Mbak Zelvi, pembeli lainnya, menyebut kondisi cuaca dan siklus panen turut memengaruhi pasokan.
“Ya selain meningkatnya permintaan menjelang Ramadan, cuaca ekstrem dan berakhirnya masa panen ini menjadi pemicu menipisnya pasokan di tingkat petani,” jelasnya.
Terbatasnya pasokan di tengah permintaan yang mulai naik membuat harga cabai rawit berpotensi terus bergerak naik. Sejumlah warga bahkan memprediksi harga bisa bertahan tinggi atau kembali melonjak hingga mendekati Hari Raya Idulfitri jika distribusi dan produksi belum kembali normal. (Ainul/Bam)
Karimata Media Dinamika Madura