Ilustrasi cuaca ektrem (Ist-Karimata media)

Waspada, Gangguan Atmosfer Picu Cuaca Ekstrem di Jawa Timur Hingga Akhir Januari

KARIMATA MEDIA, SIDOARJO – Cuaca ekstrem berpotensi melanda sejumlah wilayah di Jawa Timur pada periode 21 hingga 30 Januari 2026. BMKG Juanda mengingatkan potensi terjadinya bencana hidrometeorologi seperti hujan sedang hingga lebat, banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, hingga hujan es di puluhan kabupaten dan kota.

Wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan di antaranya Kabupaten Banyuwangi, Bondowoso, Jember, Lumajang, Malang, Probolinggo, Sampang, Pamekasan, Sumenep, Bangkalan, Sidoarjo, Gresik, Lamongan, Tuban, Bojonegoro, Jombang, Kediri, Nganjuk, Ngawi, Madiun, Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Mojokerto, Pasuruan, Situbondo, serta sejumlah kota seperti Surabaya, Malang, Batu, Kediri, Mojokerto, Probolinggo, Blitar, dan Madiun.

Kepala Stasiun Meteorologi Juanda Sidoarjo, Taufiq Hermawan, menjelaskan saat ini seluruh wilayah Jawa Timur telah memasuki musim hujan, bahkan sebagian wilayah sudah berada pada fase puncak musim hujan. Kondisi ini diprakirakan memicu peningkatan kejadian cuaca ekstrem dalam sepuluh hari ke depan yang dapat berdampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat.

Baca Juga:  Kapolres Sumenep Pimpin Konferensi Pers Ungkap 18 Kasus Tindak Pidana

“Dalam sepuluh hari ke depan diprakirakan terjadi peningkatan cuaca ekstrem yang berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, disertai petir dan angin kencang,” ujar Taufiq.

Ia menambahkan, potensi cuaca ekstrem tersebut dipengaruhi aktifnya monsun Asia, adanya pola pertemuan angin (konvergensi), gangguan atmosfer equatorial Rossby, serta diprakirakan melintasnya gelombang atmosfer MJO (Madden Julian Oscillation) di wilayah Jawa Timur. Selain itu, suhu muka laut di perairan Selat Madura yang masih cukup signifikan serta kondisi atmosfer lokal yang labil turut mendukung pertumbuhan awan konvektif.

Baca Juga:  Nelayan Temukan Jasad Mr. X di Bibir Pantai Pamekasan

BMKG Juanda mengimbau masyarakat dan instansi terkait untuk terus waspada terhadap perubahan cuaca yang terjadi secara mendadak, khususnya di wilayah bertopografi curam, bergunung, dan rawan longsor. Dampak yang perlu diantisipasi meliputi banjir, banjir bandang, tanah longsor, jalan licin, pohon tumbang, hingga berkurangnya jarak pandang.

“Masyarakat diharapkan rutin memantau informasi cuaca terkini melalui citra radar cuaca WOFI dan kanal resmi BMKG,” pungkas Taufiq.

BMKG juga mencatat, secara umum puncak musim hujan di Jawa Timur diprakirakan berlangsung pada Januari hingga Februari 2026, meskipun beberapa wilayah telah lebih dahulu mengalami puncak musim hujan pada periode Oktober hingga Desember 2025. (Lumi/Bam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *