KARIMATAMEDIA, PAMEKASAN – Kegiatan Muhibbah Budaya Keraton Solo kembali digelar di Kabupaten Pamekasan. Memasuki tahun kelima pelaksanaannya, rombongan budaya dari Keraton Surakarta melaksanakan tradisi nyadran atau nyekar ke makam leluhur yang berada di area pemakaman Ronggosukowati, Senin (16/02/2026).
Ketua Dewan Kesenian Pamekasan (DKP), Arief Wibisono mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk ziarah ke makam Raden Alsari atau Raden Tumenggung Cokroadiningrat, yang dikenal sebagai Tumenggung sepuh di Pamekasan.
Ia menjelaskan, tokoh tersebut memiliki hubungan kekerabatan dengan Keraton Solo karena merupakan besan dari Keraton Surakarta dan mertua dari Pakubuwono IV.
“Nyadran ini ke makam Raden Alsari atau Raden Tumenggung Cokroadiningrat. Beliau Tumenggung sepuh di Pamekasan, dan merupakan mertua dari Pakubuwono IV. Jadi memang ada benang merah sejarah antara Pamekasan dan Keraton Solo,” ujarnya saat On Air di Radio Karimata Dinamika Madura, Senin (16/02/2026) siang.
Ia menuturkan, kegiatan kirab budaya dimulai pukul 09.00 WIB dari Pendopo Budaya Wakil Bupati Pamekasan menuju area makam Ronggosukowati. Rombongan berjalan kaki sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur dan pemimpin terdahulu.
“Kita start dari pendopo budaya wakil bupati menuju makam Ronggosukowati dengan berjalan kaki. Itu bentuk penghormatan kami. Tahun ini baru ada kereta kuda, sebelumnya berjalan biasa saja,” katanya.
Kirab budaya tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari keluarga Keraton Solo, Wakil Bupati Pamekasan, budayawan, seniman, hingga sejumlah komunitas budaya. Termasuk jaringan dari Keraton Solo di Pamekasan, yakni Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), yang turut mengawal jalannya prosesi.
“Dari rumah budaya, Dewan Kesenian Pamekasan, beberapa komunitas juga ikut bergabung. Tentunya keluarga Keraton Solo bersama bapak wakil bupati dan para budayawan ikut menyukseskan kegiatan ini,” imbuhnya.
Arief menegaskan, ziarah tersebut bukan sekadar tontonan seremonial, melainkan memiliki nilai tuntunan bagi masyarakat. Menurutnya, tradisi nyadran merupakan bagian dari tradisi religi yang sarat makna, terlebih menjelang bulan suci Ramadan dimana masyarakat mulai ramai berziarah ke makam leluhur.
“Ini bukan sekedar tontonan, tapi ada nilai tuntunan. Masyarakat Pamekasan kan masyarakat islami. Menjelang Ramadan, makam mulai sering dikunjungi anak cucunya. Nah, ini proses yang sama, hanya saja dikemas secara seremonial oleh keraton,” pungkasnya. (Lumi/Sl)
Karimata Media Dinamika Madura