|| 1 APRIL : Hari Bank Dunia & Hari Marketing Indonesia | 2 APRIL : Hari Peduli Autisme Sedunia & Hari Buku Anak Sedunia | 6 APRIL : Hari Nelayan Nasional | 7 APRIL : Hari Kesehatan Internasional | 9 APRIL : Hari Penerbangan Nasional & Hari TNI Angkatan Udara | 12 APRIL : Hari Bawa Bekal Nasional | 16 APRIL : Hari Komando Pasukan Khusus (Kopassus) | 17 APRIL : Hari Hemophilia Sedunia | 18 APRIL : Hari Peringatan Konferensi Asia Afrika19 APRIL : Hari Pertahanan Sipil (Hansip)20 APRIL : Hari Konsumen Nasional21 APRIL : Hari Kartini22 APRIL : Hari Bumi (Internasional)23 APRIL : Hari Buku Sedunia24 APRIL : Hari Angkutan Nasional & Hari Solidaritas Asia-Afrika26 APRIL : Hari Kekayaan Intelektual Sedunia27 APRIL : Hari Permasyarakatan Indonesia28 APRIL : Hari Puisi Nasional & Hari Kesehatan dan Keselamatan Kerja (Internasional)29 APRIL : Hari Tari (Internasional) ||     

RADIO KARIMATA, PAMEKASAN - Marsuto Alfianto, Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pusat Advokasi Masyarakat Nusantara (PUSARA) sekaligus penasehat hukum Padla terdakwa pencabut pohon pisang, terus melakukan pembelaan hukum terhadap terdakwa.

Terdakwa Padla, 65 tahun, warga asal Dusun Duwek Tinggi, Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan Pamekasan, pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang becak ini, terpaksa harus berurusan dengan penegak hukum. Terdakwa di laporkan ke pihak kepolisian karena mencabut 3 batang pohon pisang di atas tanah yang diklaim menjadi milik ibu Hj.Siyah.

Sebelumnya, tanah yang ditanami pohon pisang tersebut masih dianggap sebagai tanah putranya atasnama Harun. Anaknya merasa tanah sekitar 1.365 meter persegi tersebut tidak pernah dijual semua kepada pelapor.

Menurut Padla putranya pernah menjual sebagian tanah setelah dibagi menjadi 2 petak, dan hanya sekitar 360 meter persegi saja yang dijual kepada pelapor, sehingga sisanya tetap menjadi milik Harun.

Alfian pengacara terdakwa menceritakan, kronologi kejadiannya pada tanggal 24 Desember 2018 sekitar jam 07.00 WIB, pak Padla mendatangi sawahnya untuk mengerjakan tanah tersebut, lalu dirinya melihat ada 3 pohon pisang di tanahnya dan mencabut pohon pisang itu. Terdakwa beralasan pada saat itu tidak ada larangan untuk mencabut pohon pisang tersebut.

Mengetahui hal itu Hj Siyah pada keesokan harinya melaporkan Padla ke Polres setempat, dengan dugaan pengrusakan dan penyerobotan tanah sebagaimana diatur dalam pasal 406 KUHP dan peraturan pemerintah No 51 tahun 1960.

Dalam persidangan di Pengadilan Negeri Pamekasan hari Kamis (31/1/2019), terdakwa Padla divonis hukuman selama 30 hari sebagai masa percobaan.

Menurut Alfianto terdakwa juga sudah melaporkan Ibu Hj. Siyah kepada Polsek Larangan Pamekasan terkait klaim kepemilikan tanah tersebut, sebab menurut kliennya tanah tersebut tidak sah menjadi milik pelapor. Namun hingga saat ini belum juga ada tindakan oleh pihak kepolisian.

“Kami akan melakukan upaya lain, untuk membela pak Padla yaitu melakukan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri Pamekasan besok,” ujar Alfian saat on air di Radio Karimata.  (Anis/hen)

Live Streaming

MITRA USAHA

 

 

   

 

 

 

 

Search

Who's Online

We have 42 guests and no members online

Logo Mitra Kerja

     

    

 

                                                        

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Alamat

PT. RADIO SWARA KARIMATA

Jl.Raya Panglegur 123 Pamekasan
Tlp. 0324‐333555 / 333999
Fax. 0324‐331432