|| 1 APRIL : Hari Bank Dunia & Hari Marketing Indonesia | 2 APRIL : Hari Peduli Autisme Sedunia & Hari Buku Anak Sedunia | 6 APRIL : Hari Nelayan Nasional | 7 APRIL : Hari Kesehatan Internasional | 9 APRIL : Hari Penerbangan Nasional & Hari TNI Angkatan Udara | 12 APRIL : Hari Bawa Bekal Nasional | 16 APRIL : Hari Komando Pasukan Khusus (Kopassus) | 17 APRIL : Hari Hemophilia Sedunia | 18 APRIL : Hari Peringatan Konferensi Asia Afrika19 APRIL : Hari Pertahanan Sipil (Hansip)20 APRIL : Hari Konsumen Nasional21 APRIL : Hari Kartini22 APRIL : Hari Bumi (Internasional)23 APRIL : Hari Buku Sedunia24 APRIL : Hari Angkutan Nasional & Hari Solidaritas Asia-Afrika26 APRIL : Hari Kekayaan Intelektual Sedunia27 APRIL : Hari Permasyarakatan Indonesia28 APRIL : Hari Puisi Nasional & Hari Kesehatan dan Keselamatan Kerja (Internasional)29 APRIL : Hari Tari (Internasional) ||     

Oleh: Hendra Z.H, M.Redaksi Radio Karimata

Lumayan banyak cerita dan diskusi bebas di Hari Pers Tahun 2019 ini, mulai soal pengakuan tanggal Hari Pers, Perjuangan Tolak Remisi, Tentang Hukum & Hak Jurnalis, Kesejahteraan serta profesionalisme kerja para Jurnalis. Tema Hari Pers sebenarnya tentang penguatan ekonomi kerakyatan berbasis digital, sebuah semangat baru di era milenial. Tapi kenyataan semua mengerucut kepada bagaimana nasib jurnalis serta profesi itu sendiri.

Jurnalis itu Hama?

Diakui atau tidak, masih tersisa generalisasi oknum jurnalis sehingga muncul stigma negatif masih menempel kepada profesi ini. Jurnalis kadang masih dinilai sebagai "Hama".

Layaknya "hama", di satu sisi Jurnalis memang dibutuhkan dalam sebuah ekosistem sebagai food chain. Penting memang karena jika hilang sama sekali, maka akan terputus rantai makanan dan tentu akan merugikan “koloni” lain. Tapi seberapa pentingkah peran jurnalis dalam karya jurnalistiknya?.

Stigma miring profesi jurnalis ini seperti maaf  kentut yang mungkin terdengar, terasa tapi tak berdaya dihilangkan dan nyaris sulit dibuktikan. Parahnya insan pers juga pura-pura tidak tahu tentang stigma ini dengan alasan tidak ada yang dapat dilakukan. Sulit membedakan jurnalis yang bertugas untuk kepentingan publik dengan manusia yang mengaku jurnalis hanya sekedar menyambung hidup.

Ingin Kaya Jangan Jadi Jurnalis

Sebagian bargaining position jurnalis masih sangat rendah, terlebih ketika kualitas SDM dan Kesejahteraan dalam arti sebenarnya masih minim, medianya belum mampu membayar mereka dengan layak sehingga tak sedikit yang harus mencari "sejahtera" dengan jalan harus melacurkan idealismenya.

Saya pernah berbincang, lebih tepatnya bercanda karena sering bersama dalam kesempatan liputan dengan rekan jurnalis yang saat ini (sementara) sudah melepas status/ profesi awalnya sebagai jurnalis, dan kini menjadi wakil umat (anggota DPRD), meminjam istilahnya, “Jurnalis jangan sampai mengemis (") tapi jangan menolak atau menghalangi orang untuk berbuat baik, karena bagi mereka kita adalah mustahiq,” kelakarnya waktu itu.

Saya menyimpulkan dengan kalimat sederhana, bahwa menolak pemberian bagi masyarakat Madura dianggap penghinaan, namun meminta-minta bahkan dengan paksaan atau dengan “sentuhan” rasa takut seseorang sehingga terpaksa memberi  tentu tindakan menista idealisme jurnalistik.

Namun banyak oknum, (saya sebut banyak karena lebih dari 2 dan saya sebut oknum karena tidak semua) yang mereka tidak meminta tapi "merangsang” untuk diberi.

Almarhum guru saya Hasan Altuwy salah satu CEO Radio serta mantan Ketua PWI Pamekasan, wartawan 3 jaman yang juga berteman dengan Alm. Abdul Azis, tokoh pers sekaligus pendiri surat kabar yang pernah melegenda, Harian Sore "Surabaya Post". Almarhum pernah mengingatkan lebih detail, sama seperti rekan saya. "Jangan meminta dan jangan merangsang untuk diberi". Beliau mengingatkan bahwa menerima sesuatu yang berlebihan atau tidak wajar, maka akan menunggu pemberian yang lebih besar dan di situlah ujian itu sebenarnya. Pertanyaan itu saya tanyakan sejak 2002 silam, dan justru mendapat pernyataan baru yang membuat saya tercengang dari alm Hasan Altuwy, “Jika ingin kaya raya sebaiknya jangan jadi Wartawan,” katanya sambil tersenyum kepadaku yang memang sedang menatap dalam kepadanya. Tapi tak selesai di situ, saya pun penasaran dengan kalimat tersebut, dan beberapa tahun selanjutnya beliau pernah mengatakan Jadilah Pengusaha dan Penguasa Media.

Membedakan “hama” jurnalis

Salah banyak (bukan satu) ciri atau karakter jurnalis yang kadang mengaku tak meminta tapi merangsang untuk wajib diberi antara lain:

  1. Datang tanpa membuat jadwal/janji, namun terkesan arogan karena tak mau menunggu lama Narasumber (narsum) saat berada di kantornya.
  2. Pertanyaan intervew tidak terstruktur terkesan bernafsu ingin "menjatuhkan" narsum diawal perbincangan.
  3. Sering menolak atau membantah penjelasan narsum atas pertanyaan yang diajukan (bukan tidak puas, tapi mengabaikan narsum).
  4. Berlama lama-lama atau mengulang pertanyaan yang sama, meski jawabannya sudah dijelaskan panjang lebar alias mbulet.
  5. Berlama lama-lama nongkrong meski sudah selesai interview di dalam ruangan tanpa diminta atau dipersilahkan oleh narsum.
  6. Justru anehnya terkadang oknum si Jurnalis yang memberikan solusi atas persoalan yang sudah ditanyakan sendiri (hebat bukan).
  7. Terkadang jurnalis menggandeng LSM karena terkesan jurnalisnya tak percaya diri (PD) untuk konfirmasi berita yang dibutuhkan.
  8. Kadang menolak atau tak terima dengan jawaban narsum dengan "No comment" padahal itu hak narsum, mungkin terkesan arogan atau mungkin karena tak tahu Kode Etik Jurnalistik, UU Pers, UU Penyiaran dll. Yang mereka hafal cuma satu pasal yaitu pasal 18 ayat 1 UU 40/99 menjadi senjata ampuh mereka “Barang siapa sengaja menghalang-halangi tugas jurnalis..bla bla...dan seterusnya. Tapi sebagian mereka kadang juga lupa hak Narsum. Ini hanya indikasi yang mungkin ada ciri lain dari sebagian oknum sematai. ini hanya versi saya menyadur dan merangkum dari cerita para narasumber.

Bagir Manan mantan Ketua Dewan Pers pernah mengatakan dalam acara Konvensi Media Massa di Jambi, 8 Februari 2012, dalam rangka Hari Pers Nasional . Bahwa kemerdekaan pers telah dijamin secara expressis verbis oleh UU Pers (UU No. 40 tahun 1999). Secara implied kemerdekaan pers dijamin UUD 1945. Sejumlah ketentuan tentang hak asasi, seperti hak atas kebebasan berkomunikasi, hak atas kebebasan mengeluarkan pikiran dan pendapat, memerlukan, bahkan efektif apabila ada kemerdekaan pers. Begitu pula ditinjau dari aspek demokrasi, tidak dapat dilepaskan dari kehadiran kemerdekaan pers. Namun kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan yang bertanggungjawab.

Curhat Unik Jurnalis Daerah

Penghargaan sebagai jurnais lebih sering ternoda (saya tak ingin menulis penghormatan tapi penghargaan, karena tak butuh penghormatan tapi dihargai) dari publik, salah satu indikator jurnalis masih terkesan dianggap sebagai “hama” tadi, ketika pejabat atau narsum melihat jurnalis (bisa dipooling) lebih banyak menghindar dan tak senang menemui jurnalis di tempat kerjanya atau di tempat lain. Bahkan sering kita dengar di “ekosistem” mereka profesi jurnalis jadi tema nyinyir pembincangan diantara mereka.

Saya mendengar pengakuan mereka. Dan yang paling saya ingat ketika cerita singkat seorang pejabat (sekarang mantan, sudah pensiun sebelum HPN tahun ini)  Begini petikan kalimatnya "Dik maaf ya.. saya agak gimana gitu ya, saat saya makan bersama keluarga besar di sebuah Rumah Makan, tiba-tiba datang gerombolan (bahasanya gerombolan loh) si Anu.. menyapa dan menyodorkan kertas isi nama jurnalis yang ada di situ, jika saya ada acara Dinas atau kegiatan kantor gak apa apa..lah ini bersama keluarga, misal saya gak bawa cukup duit kan saya malu," ungkapnya. Petikan ini sengaja saya tulis untuk menjadi muhasabah kita sebagai jurnalis.

Saya seperti terpaku, lidah terasa kelu dan spontan mulut reflek ngomong."ini oknum kan pak," jawabku setengah sadar. "iya dik tidak semua seperti itu, kalau sampeyan dan teman-temannya gak pernah," ujarnya serasa menghibur, mungkin baru sadar karena saya masih nyangkul di media/ jurnalis.

Ughh...agak.sedikt "nyilu" batin ini, saya  kembali bertanya "Bapak memang lagi ada masalah tah kok kesannya takut ke mereka?!"  Dia pun menjawab "yaa semua pejabat kalau dikorek-korek ada saja lah masalah,”pungkasnya.

Satu kisah lagi yang saya alami bersama rekan mantan jurnalis yang kala itu dia bertugas di koran lokal, sekitar 2008-an tepatnya sekitar pukul 11.00 Wib karena waktu siang sebelum sholat zhuhur, kami berdua sudah membuat janji interview dengan narasumber (narsum) di kompleks kantor Pemda Timur Pamekasan.

Saat kami melintas di depan sebuah ruangan terdengar suara tak merdu yang membuat langkah kami terhenti. "Duuh yak wartawan poolee". (waduh ini wartawan lagi) sontak kami berhenti dan sepakat menegur oknum PNS yang nyinyir dengan ekspresi tak asyik tersebut. Singkat cerita kami hanya menegur maksud kata-kata tersebut namun "ditengahi" oleh PNS lain sehingga berakhir damai serta meminta maaf. Bener-benar minta maaf loh staf PNS tersebut dan kami bener-benar memaafkan. (kalo sekarang mungkin bisa “digoreng” dan “gentayangan” di medsos hehe). Bagi kami, menyadarkan kehilafan si Bapak tadi sudah cukup, toh tak ada yang dirugikan saat itu, dan memaafkan itu nikmat.

Muhasabah Di Hari Pers

Cuplikan kisah tadi riil, meski hanya segelintir kisah yang kebetulan naik ke permukaan saat Hari Pers tanpa melupakan kisah penting lain yang sudah diperjuangkan rekan-rekan jurnalis semisal tentang hidup dan penghidupan profesi Jurnalis.

Profesi ini masih penuh hitam putih. Entah dimulai dari mana memperbaiki citra jurnalis?, SDM kah? kadang ada oknum yang hanya orientasi materi semata, padahal karya jurnalistiknya acak-acakan. Bahkan ada loh, mereka di jaman sekarang cara ngetik di komputer saja susah, bahkan disuruh buat akun email saja bingung. Belum lagi yang sok lebih garang dari petugas/polisi saat interview, padahal polisi saja gak segitu garangnya. Kejadian ini kadang ditemui di kota loh belum lagi di pedesaan. Atau mungkin ini tugas Manajemen Media juga?! Tempat jurnalis "nyangkul ??" atau memang butuh peran regulasi/pemerintah?!. Hal ini bukan persoalan baru, tapi sudah kuno. Namun kita jurnalis tak boleh bosan memperbaiki keadaan, minimal tak menambah citra buruk profesi ini.

Kadang kita mirip gula di dalam kopi, jika Kopi pahit yang dihujat tentu gula, Tapi jika gulanya pas dan kopinya uenak..hmm kalimatnya Mantap Kopinya, lupa dengan gulanya.

Tahun politik saat ini perlu peran jurnalis yang bertugas Profesional tapi Proporsional, sebab kita dituntut bertugas sesuai aturan dengan idealisme, meski kita masih menjadi subordinate dari penguasa media.

Setiap pribadi ini adalah jurnalis, namun dalam pribadi setiap jurnalis ini tentu juga punya banyak pilihan. Dan profesi Jurnalis pun adalah sebuah pilihan, meski sebenarnya cita-cita ini kadang jarang muncul dalam benak saat kita masih kecil, semoga bukan karena keterpaksaan dan karena tak punya pilihan.

Selamat Hari Pers 2019 Kapan pun tanggalnya.(Hendra-Alfaqir)

Live Streaming

MITRA USAHA

 

 

   

 

 

 

 

Search

Who's Online

We have 58 guests and no members online

Logo Mitra Kerja

     

    

 

                                                        

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Alamat

PT. RADIO SWARA KARIMATA

Jl.Raya Panglegur 123 Pamekasan
Tlp. 0324‐333555 / 333999
Fax. 0324‐331432