||||||||||||| 21 NOVEMBER : Hari Pohon | 22 NOVEMBER : Hari Perhubungan Darat | 25 NOVEMBER : Hari Guru | 28 NOVEMBER : Hari Menanam Pohon Indonesia | 29 NOVEMBER : Hari Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) ||||||||||    

Oleh : Sukriyanto 

Sepanjang sejarah dunia, Islam telah terbukti membangun peradaban manusia yang gemilang. Islam mampu mencerahkan peradaban gelap gulita menuju terang benderang. Dua puluh abad yang silam, Nabi Muhammad SAW datang dengan membawa kabar suka yakni membebaskan manusia dari kejahiliyahan dan kebodohan yang mengitari kehidupan pada zaman tersebut. Penindasan, perbudakan, dan kezaliman-kezaliman yang terjadi. Lahirlah peradaban Islam yang gemilang. Faktor paling menentukan ketika itu adalah keimanan dan keilmuan. Tidak ada dikotomi dari keduanya. Keimanan dan keilmuan adalah dua faktor mendasar keberhasilan kejayaan Islam.

 Pendidikan Rasul: Al Qur’an berjalan

Muhammad lahir dari seorang yang buta huruf. Ia hanyalah seorang penggembala di masa kecilnya. Tetapi tak ada yang menafikan bahwa Muhammad kecil menjelma menjadi sosok manusia agung. Seorang pemimpin politik dan sekaligus pemimpin religius. Lautan keajaiban akan selalu ditemukan ketika membahas Muhammad SAW. Pribadi yang menawan, rendah hati, penyayang, penuh kasih dan cinta. Seorang ahli ibadah meski Allah telah memberikan jaminan surga kepadanya. 

Sejarah mencatat Nabi Muhammad SAW telah menanamkan kasih sayang dalam kepemimpinanya. Jelas, bagaimana cara  memimpin, berinteraksi dan mendidik pengikutnya. Tak heran, kejayaan Islam pertama di pegang oleh tokoh-tokoh yang tidak diragukan lagi kapabilitasnya. Kita bisa melihat bagaimana preman pasar semacam Umar bin Khatab yang kemudian menjadi kepala negara yang susah dicari tandingannya di masa sekarang atau Khalid Bin Walid menjelma menjadi seorang jendral perang dari hanya seorang jagoan kampung. Dan hamba sahaya semacam Salman Al Farisi yang sebelumnya hanya mengenal cara menanam dan merawat kurma di Madinah bisa menjadi gubernur yang sukses di Persia. Serta  bagaimana pengembala kambing seperti Abdullah bin Mas’ud bisa menjadi ahli tafsir al qur’an?

Rasulullah SAW merupakan cerminan komprehensif  kesempurnaan sikap, prilaku, dan pola pikir. Beliau menyampaikan risalah Islam tidak sekedar NATO (No Action Talk Only). Bahkan sayyidah ‘Aisyah tatkala ditanya oleh beberapa sahabat mengenai pribadi Rasulullah SAW menyebutkan bahwa Rasulullah itu adalah Al-Qur’an berjalan. Artinya semua kaidah kehidupan yang ditetapkan Islam melalui Al-Qur’an semuanya contoh sudah terdapat dan dijumpai dalam diri Rasulullah SAW. Rasul tidak sekedar memberikan teori, akan tetapi contoh konkret melalui akhlak dan perilakunya. 

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.”(QS.Al-Ahzab : 21)

 

 Mendidik Bersama Allah

Bagaimanakah implementasi pendidikan ala Rasulullah SAW saat ini? Mendidik anak seperti yang Rasul ajarkan, berarti mendidik bersama Allah. Artinya senantiasa mengikutsertakan Allah dalam setiap fasenya. Pendidikan anak diawali dengan  doa  yang dimohonkan kepada Dzat yang menciptakan segala sesuatu untuk memberinya  anak yang sholeh dan diberi kemampuan serta kesabaran dalam menemukan cara terbaik dalam mendidik anak-anaknya. Karena do’a, bagaimanapun, adalah sarana komunikasi ruhiyah seorang hamba dengan Robbnya. Doa pula yang merupakan pembatas yang menunjukan kelemahan manusia dan keMaha Agungan Allah

 Dalam mendidik anak, manusia tidak cukup dengan hanya mengandalkan kekuatan akal dan jasmaninya. Bimbingan ilahiyah sangatlah diperlukan. Kelemahan manusia dalam memandang sesuatu yang baik buat si anak begitu relatif. Terkadang ia berpikir bahwa suatu perbuatan yang menurutnya sudah baik untuk pendidikan si anak, pihak lain memandangnya sebagai suatu yang tidak tepat .Maka sehebat apapun manusia berteori, tidak akan terlepas dari kemampuan akalnya yangterbatas. 

“Ajaklah anak bermain pada tujuh tahun pertama, disiplinkanlah anak pada tujuh tahun kedua dan bersahabatlah pada anak usia tujuh tahun ketiga”

Sesuai dengan pernyataan Ibnu Sina : “Tujuh tahun pertama perlakukan seperti amir (raja), tujuh tahun kedua seperti asir (tawanan) dan tujuh tahun ketiga perlakukan anak seperti wazir (mitra)”.

Pembagian fase usia tersebut merupakan arahan berkomunikasi dengan anak serta tahapan pendidikan dengan metode pendekatan yang berbeda sesuai dengan perkembangan kepribadian  anak yang sehat, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah saw : Berbicaralah dengan manusia sesuai kemampuan intelektualnya”, berbicaralah dengan manusia dengan bahasa mereka “. Posisikan manusia sesuai dengan posisinya masing-masing” (Haids-hadis Nabi saw).

Keberhasilan penyampaian pesan sangat bergantung kepada cara penyampaiannya, karenanya memahami metode pembinaan merupakan suatu keniscayaan. Inilah pula yang dicontohkan Rasulullah, ketika Rasul mendidik. Kwantitas pengikut Nabi Muhammad SAW yang terus bertambah adalah bukti bahwa keberhasilan penyampaian pesan Rasulullah SAW.

 Hakikat pendidikan sebagai proses menuju kesempurnaan dan bukannya puncak kesempurnaan. Itulah kenapa pendidikan merupakan proses sepanjang hidup. Pendidikan Islami merupakan pembentukan diri dan prilaku yang tidak bisa didapatkan dalam waktu sekejap. Butuh kesinambungan proses baik transfer maupun control terhadap hasilnya. Proses pendidikan yang dilakukan oleh Rasulullah juga berjalan dalam jangka waktu yang tidak singkat. Waktu 13 tahun dihabiskan selama di Makkah dan dilanjutkan di Madinah selama 10 tahun. Di akhir usianya Rasulullah terus mendidik tanpa henti sampai kembali ke haribaan Allah SWT.

Wallahu’allam.

Live Streaming

MITRA USAHA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Search

Who's Online

We have 40 guests and no members online

Logo Mitra Kerja

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Alamat

PT. RADIO SWARA KARIMATA

Jl.Raya Panglegur 123 Pamekasan
Tlp. 0324‐333555 / 333999
Fax. 0324‐331432